Bhagawad Gita Bab. 18

87 / 100

Bhagawad Gita: Percakapan Kedelapanbelas

Kebebasan Mutlak: Mengakhiri Perpisahan Menuju Pertemuan Agung

18:1

arjuna uvāca sanyāsasya mahā-bāho tattvam icchāmi veditum

Advertisements

tyāgasya ca hṛṣīkeśa pthak keśī-niūdana

Arjuna bertanya:

”Wahai Kṛṣṇa, aku ingin tahu kebenaran tentang sanyās, dan tyāga; dan perbedaan di antaranya.”

18:2

śrī-bhagavān uvāca kāmyānā karmaā nyāsa sanyāsa kavayo vidu

sarva-karma-phala-tyāga prāhus tyāga vicakaā

Śrī Bhagavān (Kṛṣṇa Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Para Resi menjelaskan sanyās sebagai pelepasan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan, memperoleh sesuatu; dan, tyāga, sebagaimana dijelaskan oleh para bijak, adalah menyerahkan, melepaskan segala pahala, seluruh hasil dari setiap perbuatan.”

18:3

tyājya doa-vad ity eke karma prāhur manīia
yajña-dāna-tapa-karma na tyājyam iti cāpare

“Sebagian bijak mengatakan bahwa tiada satu pun perbuatan yang sempurna, ada saja titik-titik ketidaksempurnaan (noda kejahatan dan dosa-kekhilafan) di balik setiap perbuatan. Oleh karenanya, pelepasan sempurna adalah bebas dari segala perbuatan. Namun, ada juga yang menyatakan bahwa persembahan, berderma, dan laku spiritual tidak mesti dilepaskan.”

18:4

niścaya śṛṇu me tatra tyāge bharata-sattama
tyāgo hi purua-vyāghra tri-vidha samprakīrtita

“Wahai Arjuna, sekarang dengarlah terlebih dahulu pendapat-Ku tentangsanyās dan tyāga; Arjuna, adalah 3 macam pelepasan, SāttvikaRājasika, dan Tāmasika.”

18:5

yajña-dāna-tapa-karma na tyājya kāryam eva tat
yajño dāna tapaś caiva pāvanāni manīiām

“Perbuatan seperti yajña, persembahan; dāna, berderma; tapas, tapa-brata atau laku spiritual – adalah lazim untuk dilakukan (tidak dilepaskan). Karena, semua itu menyucikan diri para pelakunya yang bijak.”

18:6

etāny api tu karmāi saga tyaktvā phalāni ca
kartavyānīti me pārtha niścita matam uttamam

“Sebab itu, persembahan, berderma, tapa-brata dan kewajiban-kewajiban lain mesti dilaksanakan tanpa keterikatan dan harapan untuk meraih suatu hasil; demikian keyakinan Ku, wahai Arjuna.”

18:7

niyatasya tu sanyāsa karmao nopapadyate
mohāt tasya parityāgas tāmasa parikīrtita

“Kewajiban bukanlah untuk diabaikan. Mengabaikannya karena kebingungan yang disebabkan oleh keterikatan ilusif, adalah pelepasan bodoh dan bersifat Tāmasika.”

18:8

dukham ity eva yat karma kāya-kleśa-bhayāt tyajet
sa ktvā rājasa tyāga naiva tyāga-phala labhet

“Melepaskan suatu pekerjaan karena dianggapnya sulit; melelahkan fisik atau membebani mental dan emosional, maka pelepasan seperti itu bersifat Rājasika dan tidak berguna.”

18:9

kāryam ity eva yat karma niyata kriyate’rjuna
saga tyaktvā phala caiva sa tyāga sāttviko mata

“Karya luhur yang dilaksanakan demi keluhuran karya itu sendiri; dengan melepaskan keterikatan pada hasilnya, disebut pelepasan atau Tyāgabersifat Sāttvika.”

18:10

na dveṣṭy akuśala karma kuśale nānuajjate
tyāgī sattva-samāviṣṭo medhāvī chinna-saśaya

“Ia yang tidak membenci pekerjaan yang tidak menyenangkan; dan, tidak terikat dengan yang menyenangkan, sungguh telah bebas dari segala keraguan. Ialah seorang bijak yang betul-betul melakoni pelepasan diri.”

18:11

na hi deha-bhtā śakya tyaktu karmāy aśeata
yas tu karma-phala-tyāgī sa tyāgīty abhidhīyate

“Selama masih memiliki badan, seseorang tidak bisa lepas dari karmaatau perbuatan; seorang Tyāgī atau Pelepas Sejati melepaskan segala harapan dari hasil perbuatannya.”

18:12

aniṣṭam iṣṭa miśra ca tri-vidha karmaa phalam
bhavaty atyāginā pretya na tu sanyāsinā kvacit

“Bagi mereka yang masih terikat (dengan hasil), adalah tiga macam hasil perbuatan yang diperolehnya setelah kematian, yakni; yang menyenangkan, yang tidak menyenangkan, dan gabungan dari keduanya (antara yang menyenangkan dan tidak menyenangkan). Namun, bagi seorang sanyāsī (yang tidak terikat dengan hasil perbuatannya), yang demikian itu tidak ada.”

18:13

pañcaitāni mahā-bāho kāraāni nibodha me
khye ktānte proktāni siddhaye sarva-karmaām

“Wahai Arjuna, dengarlah dari-Ku, 5 faktor penyebab karma atau perbuatan, sebagaimana dijelaskan dalam ajaran khya.”

18:14

adhiṣṭhāna tathā kartā karaa ca pthag-vidham
vividhāś ca pthak ceṣṭā daiva caivātra pañcamam

“Berikut ini adalah 5 faktor atau unsur tersebut: Tempat Hunian Jiwa atau Badan; Penyebab segala Perbuatan atau Gugusan Pikiran serta Perasaan; Pancaindra (Mata, Telinga, Hidung, Mulut, dan Kulit); Pancaindra Persepsi (Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Pencecapan, dan Perabaan); dan, yang kelima adalah Takdir, atau Hasil dari Karma yang Terakumulasi.”

18:15

śarīra-vā-manobhir yat karma prārabhate nara
nyāyya vā viparīta vā pañcaite tasya hetava

“Kelima faktor inilah yang menyebabkan segala macam perbuatan, menggerakkan gugusan pikiran serta perasaan, termasuk pengucapan; baik yang tepat, maupun yang tidak tepat.”

18:16

tatraiva sati kartāram ātmāna kevala tu ya
paśyaty akta-buddhitvān na sa paśyati durmati

“Mereka yang tidak memahami hal ini (tentang lima unsur penyebabkarma); menganggap Jiwa sebagai pelaku. Pandangan mereka tidak tepat, karena pemahaman yang tidak tepat pula.”

18:17

yasya nāhakto bhāvo buddhir yasya na lipyate
hatvāpi sa imāl lokān na hanti na nibadhyate

“Ia yang pikirannya telah terbebaskan dari anggapan keliru bila dirinya adalah pelaku; dan, inteligensianya tidak tercemar oleh kebendaan – sesungguhnya tidak membunuh ketika membinasakan orang-orang ini (yang bertindak tidak selaras dengan hukum-hukum alam); pun tiada (akibat karma) yang mengikat dirinya.”

18:18

jñāna jñeya parijñātā tri-vidhā karma-codanā
karaa karma karteti tri-vidha karma-sagraha

“Adalah Tiga hal yang memicu terjadinya suatu karma atau perbuatan yaitu; Pengetahuan, Tujuan Mengetahui, dan Ia yang (ingin) Tahu. Pun demikian, adalah Tiga hal yang melandasi setiap karma atau perbuatan; Alat atau Anggota Badan yang bertindak, Tindakan itu sendiri, dan Yang Menyebabkan Terjadinya Tindakan atau Pelaku.”

18:19

jñāna karma ca kartā ca tridhaiva gua-bhedata
procyate gua-sakhyāne yathāvac chṛṇu tāny api

“Ajaran khya tentang gua atau sifat-sifat alami, menjelaskan adanya pembagian Pengetahuan, Perbuatan, dan Pelaku dalam 3 kelompok berdasarkan sifat yang lebih dominan. Dengarlah hal ini…”

18:20

sarva-bhūteu yenaika bhāvam avyayam īkate
avibhakta vibhakteu taj jñāna viddhi sāttvikam

“Pengetahuan yang membuat seseorang melihat Sang Jiwa Agung yang Tak Termusnahkan dan Tak Terbagi dalam diri setiap makhluk tanpa kecuali – adalah Pengetahuan Sāttvika.”

18:21

pthaktvena tu yaj jñāna nānā-bhāvān pthag-vidhān
vetti sarveu bhūteu taj jñāna viddhi rājasam

“Pengetahuan yang membuat seseorang melihat perpisahan antara satu makhluk dengan yang lain; seolah setiap makhluk berada sendiri-sendiri – adalah Pengetahuan Rājasika.”

18:22

yat tu ktsna-vad ekasmin kārye saktam ahaitukam
atattvārtha-vad alpa ca tat tāmasam udāhtam

“Pengetahuan yang mengelu-elukan sesuatu tanpa pertimbangan yang masuk akal; menganggapnya sebagai pengetahuan yang paling benar, dan menciptakan keterikatan padanya, adalah Pengetahuan Picik, dan disebutTāmasika.”

18:23

niyata saga-rahitam arāga-dveata ktam
aphala-prepsunā karma yat tat sāttvikam ucyate

“Suatu perbuatan yang selaras dengan nilai-nilai luhur; dan dilakukan tanpa keangkuhan, tanpa ke-“aku”-an;  tanpa mengharapkan imbalan; tanpa keberpihakan, dan tanpa pilih kasih – adalah Perbuatan Sāttvika.”

18:24

yat tu kāmepsunā karma sāhakārea vā puna
kriyate bahulāyāsa tad rājasam udāhtam

“Sementara itu, perbuatan yang dilakukan dengan memaksa diri demi kenikmatan indra, dan untuk kepuasan ego semata – adalah PerbuatanRājasika.”

18:25

anubandha kaya hisām anapekya ca pauruam
mohād ārabhyate karma yat tat tāmasam ucyate

“Perbuatan yang dilandasi kebodohan, tanpa memikirkan dampaknya terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain –  menyakiti diri dan orang lain; merugikan perkembangan Jiwa; dan, mengikatnya dengan dunia benda adalah Perbuatan Tāmasika.”

18:26

mukta-sago’naha-vādī dhty-utsāha-samanvita
siddhy-asiddhyor nirvikāra kartā sāttvika ucyate

“Seorang Pelaku yang bebas dari keterikatan (pada hasil perbuatannya); tanpa ego; teguh dan penuh semangat (untuk berkarya), pun tidak terganggu oleh  keberhasilan maupun kegagalan, disebut Sāttvika.”

18:27

rāgī karma-phala-prepsur lubdho hisātmako’śuci
hara-śokānvita kartā rājasa parikīrtita

“Seorang Pelaku yang penuh keterikatan; senantiasa mengharapkan hasil dari perbuatannya; serakah; bersifat memaksa atau agresif; dan terpengaruh oleh suka dan duka, disebut Rājasika.”

18:28

ayukta prākta stabdha śaho naiktiko’lasa
viādī dīrgha-sūtrī ca kartā tāmasa ucyate

“Sementara itu, seorang Pelaku Tāmasika adalah tanpa pengendalian diri; tidak beradab; alot, kaku, keras; sombong; tidak jujur; berhati jahat; malas dan tebal-muka; pengecut, mudah putus asa, dan sering menunda pekerjaan.”

18:29

buddher bheda dhteś caiva guatas tri-vidha śṛṇu
procyamānam aśeea pthaktvena dhanañjaya

“Wahai Arjuna, sekarang dengarkan pembagian Inteligensia atau Buddhidan keteguhan hati berdasarkan masing-masing gua atau sifat.”

18:30

pravtti ca nivtti ca kāryākārye bhayābhaye
bandha moka ca yā vetti buddhi sā pārtha sāttviki

“Arjuna, Inteligensia yang secara tepat dapat menentukan saat untuk bertindak dan saat untuk tidak bertindak; apa yang mesti diperbuat, dan apa yang tidak; apa yang mesti ditakuti dan dihindari, dan apa yang tidak; apa yang mengikat dan apa yang membebaskan diri, adalah Inteligensia yang disebut Sāttvika.”

18:31

yayā dharmam adharma ca kārya cākāryam eva ca
ayathāvat prajānāti buddhi sā pārtha rājasī

“Inteligensia yang tidak mampu membedakan antara Dharma (kebajikan) dan adharma (kebatilan); apa yang mesti dilakukan, dan apa yang mesti dihindari – adalah bersifat Rājasika.”

18:32

adharma dharmam iti yā manyate tamasāv
sarvārthān viparītāś ca buddhi sā pārtha tāmasī

“Wahai Arjuna, Inteligensia yang melihat adharma (kebatilan) sebagaidharma (kebajikan); dan, dalam segala hal, melihat kebalikan dari apa adanya; demikian, inteligensia yang tetutup oleh awan kebodohan seperti itu bersifat Tāmasika.”

18:33

dhtyā yayā dhārayate mana-prāendriya-kriyā
yogenāvyabhicāriyā dhti sā pārtha sāttviki

“Arjuna, Keteguhan atau Ketetapan Hati untuk mengendalikan gugusan pikiran serta perasaan (mind); prāa atau energi kehidupan dan indra dengan Yoga, adalah Keteguhan Hati bersifat Sāttvika.”

18:34

yayā tu dharma-kāmārthān dhtyā dhārayate’rjuna
prasagena phalākākī dhti sā pārtha rājasī

“Wahai Arjuna, Keteguhan Hati, yang membuat seseorang berkarya dengan penuh pamrih untuk ketenaran, harta dan berbagai kenikmatan dunia lainnya – adalah Keteguhan Hati yang bersifat Rājasika.”

18:35

yayā svapna bhaya śoka viāda madam eva ca
na vimuñcati durmedhā dhti sā pārtha tāmasī

“Arjuna, Keteguhan Hati Tāmasika yang bodoh, membuat seorang bermalas-malasan, takut, gelisah, murung, dan sia-sia.”

18:36

sukha tv idānī tri-vidha śṛṇu me bharatarabha
abhyāsād ramate yatra dukhānta ca nigacchhati

“Arjuna, dengarlah tentang 3 macam ‘Suka’ atau Kebahagiaan, Suka yang jika diraih, mengakhiri segala duka.”

18:37

yat tad agre viam iva pariāme’mtopamam
tat sukha sāttvika proktam ātma-buddhi-prasāda-jam

“‘Suka’ atau Kebahagiaan yang awalnya terasa seperti racun, tapi akhirnya seperti Amta – Ambrosia Kehidupan Abadi; itulah Kebahagiaan atau ‘Suka’ Sāttvika yang merupakan hasil dari pikiran yang tenang, terkendali; dan pemahaman tentang kesejatian diri.”

18:38

viayendriya-sayogād yat tad agre’mtopamam
pariāme viam iva tat sukha rājasa smtam

“Kebahagiaan atau ‘Suka’ yang diperoleh dari interaksi indra dengan pemicu-pemicu di luar, awalnya terasa sebagai Amta, Ambrosia Kehidupan Abadi – namun, akhirnya terbukti bisa atau racun, adalah Kebahagiaan atau ‘Suka’ Rājasika.”

18:39

yad agre cānubandhe ca sukha mohanam ātmana
nidrālasya-pramādottha tat tāmasam udāhtam

“Kebahagiaan atau ‘Suka’ yang sejak awal hingga akhir menjauhkan Jiwa dari kesejatian dirinya; diperoleh dari tidur, bermalas-malasan, dan kecuekan egois –adalah Kebahagiaan atau ‘Suka’ Tāmasika.”

18:40

na tad asti pthivyā vā divi deveu vā puna
sattva prakti-jair mukta yad ebhi syāt tribhir guai

“Tak seorang pun di dunia, bahkan di alam para dewa atau malaikat, yang bebas dari pengaruh ketiga sifat yang berasal dari Prakti atau Alam Benda ini.”

18:41

brāhmaa-katriya-viśā śūdraā ca parantapa
karmāi pravibhaktāni svabhāva-prabhavair guai

“Wahai Arjuna, para brāhmaa – cendekiawan, pendidik, pendeta, dan lain sebagainya; para kṣatriya – pengabdi, pembela negara dan bangsa;vaiśya – para pengusaha; dan śūdra – para pekerja, buruh, semuanya berkarya sesuai dengan kewajiban dan mengikuti sifat dasar mereka.”

18:42

śamo damas tapa śauca kāntir ārjavam eva ca
jñāna vijñānam āstikya brahma-karma svabhāva-jam

“Ketenangan, pengendalian pikiran dan indra; kesiapsediaan untuk memikul segala kesulitan demi sesuatu yang mulia; kesucian dan kemampuan untuk memaafkan dengan mudah; jujur, berpengetahuan, dan bijaksana; serta berkeyakinan pada Hyang Maha Kuasa – semuanya itu adalah Sifat dan Kewajiban seorang Brāhmaa.”

18:43

śaurya tejo dhtir dākya yuddhe cāpy apalāyanam
dānam īśvara-bhāvaś ca kātra karma svabhāva-jam

“Keberanian, kesaktian, keteguhan, kecekatan; tidak melarikan diri, dan penuh semangat di tengah medan perang, atau saat menghadapi tantangan lain; dermawan dan berwibawa – inilah Sifat dan Kewajiban seorang Kṣatriya atau Kesatria.”

18:44

kṛṣi-go-rakya-vāijya vaiśya-karma svabhāva-jam
paricaryātmaka karma śūdrasyāpi svabhāva-jam

“Bertani, berternak (memelihara sapi perah); dan berusaha dengan jujur – semua ini adalah Sifat dan Kewajiban Vaiśya atau Usahawan. Terakhir, bekerja (sesuai dengan kemahirannya) adalah Sifat dan Kewajiban paraŚūdra atau Pekerja.”

18:45

sve sve karmay abhirata sasiddhi labhate nara
sva-karma-nirata siddhi yathā vindati tac chṛṇu

“Berkarya sepenuh hati, sesuai dengan kewajiban, dan sifat alami atau potensi dirinya, seseorang mencapai kesempurnaan. Sekarang, dengarlah tentang cara penunaian kewajiban untuk meraih kesempurnaan tertinggi tersebut.”

18:46

yata pravttir bhūtānā yena sarvam ida tatam
sva-karmaā tam abhyarcya siddhi vindati mānava

“Kesempurnaan Tertinggi tercapai oleh seseorang yang menunaikan kewajibannya sesuai dengan sifat alami atau potensi dirinya, dengan semangat berbakti pada Dia Hyang adalah Asal-Usul semua makhluk, dan Meliputi alam semesta.”

18:47

śreyān sva-dharmo vigua para-dharmāt sv-anuṣṭhitāt
svabhāva-niyata karma kurvan nāpnoti kilbiam

“Berkarya sesuai sifat alami atau potensi diri, walau terasa tidak sempurna – sesungguhnya lebih baik dan mulia dari pekerjaan yang tidak sesuai dengan sifat alami dan potensi diri, walau tampak sempurna.”

18:48

saha-ja karma kaunteya sa-doam api na tyajet
sarvārambhā hi doea dhūmenāgnir ivāv

“Oleh karena itu, wahai Arjuna, janganlah berpaling dari kewajibanmu (sesuai dengan sifat alami dan potensi dirimu), hanya karena takut melakukan kesalahan. Sebab, kesalahan bisa terjadi dalam setiap usaha, sebagaimana api tak terpisahkan dari asap.”

18:49

asakta-buddhi sarvatra jitātmā vigata-spha
naikarmya-siddhi paramā sanyāsenādhigacchati

“Seorang bijak yang tidak terikat pada sesuatu; dirinya terkendali; dan tidak lagi mengejar kenikmatan indra – meraih Kebebasan Sempurna dari segala (konsekuensi) perbuatannya, lewat Sanyās atau Pelepasan Diri (dari keterikatan pada hasil).”

18:50

siddhi prāpto yathā brahma tathāpnoti nibodha me
samāsenaiva kaunteya niṣṭhā jñānasya yā parā

“Sekarang Arjuna, ketahuilah secara singkat bagaimana seseorang yang telah meraih Kesempurnaan Diri, sekaligus mencapai Brahman, Kesadaran Jiwa yang Tertinggi; yang juga adalah Pengetahuan Tertinggi atau Pengetahuan Sejati.”

18:51

buddhyā viśuddhayā yukto dhtyātmāna niyamya ca
śabdādīn viayās tyaktvā rāga-dveau vyudasya ca

“Dengan bekal kesucian budi (berpandangan jernih); teguh dalam Kesadaran Jiwa; dirinya terkendali; tak terpengaruh oleh apa yang dikatakan orang (pendapat-pendapat yang tidak menunjang Kesadaran Jiwa); bebas dari keterikatan pada dunia benda, dan dualitas suka/tak-suka.”

18:52

vivikta-sevī laghv-āśī yata-vāk-kāya-mānasa
dhyāna-yoga-paro nitya vairāgya samupāśrita

“Ia senantiasa menarik diri ke tempat yang sepi; makan secukupnya; mengupayakan pengendalian badan, indra, ucapan serta pikiran; memusatkan seluruh kesadarannya pada diri yang sejati (melakoni Meditasi atau Dhyāna Yoga); dan berlindung pada Vairāgya, melepaskan segala keterikatan duniawi.”

18:53

ahakāra bala darpa kāma krodha parigraham
vimucya nirmama śānto brahma-bhūyāya kalpate

“Ia yang telah bebas dari ke-‘aku’-an atau ego, keangkuhan karena kekuatan, kedudukan, kekuasaan, dan sebagainya; nafsu; amarah; dan keterikatan pada harta-benda – meraih kedamaian dan kelayakan untuk mencapai Brahman, Kesadaran Tertinggi.”

18:54

brahma-bhūta prasannātmā na śocati na kākati
sama sarveu bhūteu mad-bhakti labhate parām

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.”

18:55

bhaktyā mām abhijānāti yāvān yaś cāsmi tattvata
tato mā tattvato jñātvā viśate tad-anantaram

“Dengan semangat bhakti atau panembahannya itu, ia mengetahui Hakikat Diri-Ku, bagaimana dan seperti apakah Sang Jiwa Agung. Kemudian, Pengetahuan Sejati itu pula mempersatukan dirinya dengan-Ku.”

18:56

sarva-karmāy api sadā kurvāo mad-vyapāśraya
mat-prasādād avāpnoti śāśvata padam avyayam

“Demikian, seseorang yang berkarya dengan semangat manembah, dan sepenuhnya berserah-diri pada-Ku, mencapai Kesempurnaan Tertinggi yang Abadi dan tak termusnahkan, atas anugerah-Ku.”

18:57

cetasā sarva-karmāi mayi sanyasya mat-para
buddhi-yogam upāśritya mac-citta satata bhava

“Serahkanlah segala perbuatanmu pada-Ku secara mental; berbaktilah pada-Ku sebagai Tujuan Tertinggi; lakonilah Buddhi Yoga untuk memilah yang tepat dari yang tidak; dan pusatkanlah segenap pikiran serta perasaanmu pada-Ku.”

18:58

mac-citta sarva-durgāi mat-prasādat tariyasi
atha cet tvam ahakārān na śroyasi vinakyasi

“Dengan segenap pikiran serta perasaanmu terpusatkan pada-Ku, kau akan melampaui segala kesulitan atas anugerah-Ku. Namun, jika terkendali oleh ego, kau tidak mendengarkan nasihat-Ku; maka niscayalah kau akan musnah berantakan.”

18:59

yad ahakāram āśritya na yotsya iti manyase
mithyaia vyavasāyas te praktis tvā niyokyati

“Berada di atas landasan ego, jika kau berpikir, ‘Tidak, aku tidak akan berperang’, maka pikiranmu itu salah. Sifat dasarmu (sebagai kesatria) akan mendorongmu untuk berperang.”

18:60

svabhāva-jena kaunteya nibaddha svena karmaā
kartu necchasi yan mohāt kariyasy avaśo’pi tat

“Arjuna, apa yang tidak ingin kau lakukan karena keterikatan yang bodoh, ilusif; tetaplah akan kau lakukan juga atas dorongan sifatmu sendiri (sebagai kesatria), yang disebabkan oleh karma-mu (takdirmu, potensi dirimu sebagai kesatria, pun karena akibat akumulasi karma dari masa lalu, yang menyebabkanmu lahir dalam keluarga kesatria).”

18:61

īśvara sarva-bhūtānā hd-deśe’rjuna tiṣṭhati
bhrāmayan sarva-bhūtāni yantrārūhāni māyayā

“Ketahuilah Arjuna, bahwa Īśvara – Penguasa Alam Semesta – bersemayam di hati (psikis) setiap makhluk. Dengan kekuatan Māyā-Nya (yang ilusif namun sakti), Ialah yang menggerakkan setiap makhluk secara mekanis.”

18:62

tam eva śaraa gaccha sarva-bhāvena bhārata
tat-prasādāt parā śānti sthāna prāpsyasi śāśvatam

“Sebab itu Arjuna, berserahlah sepenuhnya pada Dia; karena dengan anugerah-Nya, kau dapat mencapai kedamaian sejati dan kesempurnaan abadi.”

18:63

iti te jñānam ākhyāta guhyād guhyatara mayā
vimśyaitad aśeea yathecchasi tathā kuru

“Demikian, Kebijakan Tertinggi, Pengetahuan Sejati yang lebih dalam dari yang terdalam ini telah Ku-sampaikan padamu. Renungkan, dan selanjutnya bertindaklah sesuai dengan kehendakmu.”

18:64

sarva-guhyatama bhūya śṛṇu me parama vaca
iṣṭo’si me dṛḍham iti tato vakyāmi te hitam

“Dengarkanlah sekali lagi kata-kata penuh makna tentang Kebenaran Terdalam nan Tertinggi ini; sungguh karena Aku sangat menyayangimu, maka nasihat-Ku ini pun demi kebaikanmu sendiri.”

18:65

man-manā bhava mad-bhakto mad-yājī mā namaskuru
mām evaiyasi satya te pratijāne priyo’si me

“Pusatkanlah segenap pikiran serta perasaanmu pada-Ku; berbaktilah pada-Ku dengan menundukkan kepala-egomu. Demikian, niscayalah engkau mencapai-Ku. Aku berjanji padamu, karena kau sungguh sangat Ku-sayangi.”

18:66

sarva-dharmān parityajya mām eka śaraa vraja
aha tvām sarva-pāpebhyo mokyayiyāmi mā śuca

“Serahkan segala kewajibanmu pada-Ku (Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk), berlindunglah pada-Ku; dan akan Ku-bebaskan dirimu dari segala dosa-cela dan rasa takut yang muncul dari kekhawatiran akan perbuatan tercela. Jangan khawatir, janganlah bersusah-hati!”

18:67

ida te nātapaskāya nābhaktāya kadācana
na cāśuśrūave vācya na ca mā yo’bhyasūyati

“Janganlah kau berbagi ajaran ini dengan mereka yang tidak tertarik untuk menjalani disiplin batin; tidak memiliki keinginan untuk berbakti pada sesuatu yang lebih tinggi; tidak memiliki semangat untuk melayani sesama dan enggan mendengarnya. Sebab, mereka hanyalah akan mencari-cari kesalahan (menghina Sang Aku; tidak percaya pada Jiwa sebagai hakikat diri).”

18:68

ya ida parama guhya mad-bhaktev abhidhāsyati
bhakti mayi parā ktvā mām evaiyaty asaśaya

“Sebaliknya, ia yang berbagi ajaran ini dengan penuh kasih (dan sebagai ungkapan kasihnya pada-Ku), kepada para panembah yang memang sudah siap untuk menerimanya – niscayalah akan mencapai-Ku.”

18:69

na ca tasmān manuyeu kaścin me priya-kttama
bhavitā na ca me tasmād anya priyataro bhuvi

“Tiada seorang pun yang pelayanannya pada-Ku melebihi pelayanannya (yang dimaksud ialah seseorang yang berbagi ajaran mulia ini dengan penuh kasih kepada mereka yang memang siap untuk mendengarnya). Demikian pula, tiada seorang pun di seluruh dunia yang Ku-cintai lebih darinya.”

18:70

adhyeyate ca ya ima dharmya savādam āvayo
jñāna-yajñena tenāham iṣṭa syām iti me mati

“Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguhnya telah memuja-Ku lewat panembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jñāna Yajña) – demikian keniscayaan-Ku.”

18:71

śraddhāvān anasūyaś ca śṛṇuyād api yo nara
so’pi mukta śubhāl lokān prāpnuyāt puya-karmaām

“Barang siapa mendengarkan ajaran ini dengan penuh keyakinan dan tanpa celaan; niscaya meraih kebebasan mutlak dan kebahagiaan sejati yang diraih para bijak yang berbuat mulia.”

18:72

kaccid etac chruta pārtha tvayaikāgrea cetasā
kaccid ajñāna-samoha praaṣṭas te dhanañjaya

“Wahai Arjuna, adakah kau mendengarkan ajaran-ajaran ini dengan penuh perhatian? Apakah kekacauan pikiranmu terlampaui sudah, Arjuna?”

18:73

arjuna uvāca naṣṭo moha smtir labdhā tvat-prasādān mayācyuta

sthito’smi gata-sandeha kariye vacana tava

Arjuna menjawab:

“Berkat anugerah-Mu, Kṛṣṇa, ilusi yang menyebabkan pikiranku mengacau telah sirna; telah kuraih pemahaman yang betul. Sekarang aku bebas dari segala keraguan dan kebimbangan. Aku siap untuk menjalani titah-Mu.”

18:74

sañjaya uvāca ity aha vāsudevasya pārthasya ca mahātmana

savādam imam aśrauam adbhuta roma-haraam

Sañjaya menyampaikan:

“Demikian telah kudengarkan percakapan antara Kṛṣṇa dan Arjuna yang amat sangat menakjubkan hingga bulu romaku berdiri.”

18:75

vyāsa-prasādāc chrutavān etad guhyam aha param
yoga yogeśvarāt kṛṣṇāt sākāt kathayata svayam

“Dengan restu Bhagavān Vyāsa, telah kudengarkan ajaran Yoga yang tertinggi ini dari Kṛṣṇa sendiri – Sang Yogeśvara, Penguasa dan MaestroYoga!”

18:76

rājan sasmtya sasmtya savādam imam adbhutam
keśavārjunayo puya hṛṣyāmi ca muhur muhu

“Baginda Prabu, mengenang kembali percakapan suci antara Kṛṣṇa dan Arjuna, sungguh berbahagialah diriku.”

18:77

tac ca sasmtya sasmtya rūpam aty-adbhuta hare
vismayo me mahān rājan hṛṣyāmi ca puna puna

“Mengenang lagi wujud Kṛṣṇa, Wujud Hyang Sungguh Menakjubkan, rasa bahagiaku kian bertambah; sungguh tak terungkap lagi.”

18:78

yatra yogeśvara kṛṣṇo yatra pārtho dhanur-dhara
tatra śrīr vijayo bhūtir dhruvā nītir matir mama

“Di mana ada Kṛṣṇa dan ada Arjuna, di sanalah adanya segala kemuliaan, kemenangan, kesejahteraan, dan kebajikan – demikianlah keyakinanku.”

Demikian berakhirlah Percakapan Kedelapanbelas.

Sebelumnya

Sumber: Bhagawadgita.or.id

Advertisements