Bhagawad Gita Bab 18

Gita bab 5

Bab 18: sloka: 26 – 30

18:26

mukta-sago’naha-vādī dhty-utsāha-samanvita
siddhy-asiddhyor nirvikāra kartā sāttvika ucyate

“Seorang Pelaku yang bebas dari keterikatan (pada hasil perbuatannya); tanpa ego; teguh dan penuh semangat (untuk berkarya), pun tidak terganggu oleh  keberhasilan maupun kegagalan, disebut Sāttvika.”

18:27

rāgī karma-phala-prepsur lubdho hisātmako’śuci
hara-śokānvita kartā rājasa parikīrtita

“Seorang Pelaku yang penuh keterikatan; senantiasa mengharapkan hasil dari perbuatannya; serakah; bersifat memaksa atau agresif; dan terpengaruh oleh suka dan duka, disebut Rājasika.”

18:28

ayukta prākta stabdha śaho naiktiko’lasa
viādī dīrgha-sūtrī ca kartā tāmasa ucyate

“Sementara itu, seorang Pelaku Tāmasika adalah tanpa pengendalian diri; tidak beradab; alot, kaku, keras; sombong; tidak jujur; berhati jahat; malas dan tebal-muka; pengecut, mudah putus asa, dan sering menunda pekerjaan.”

18:29

buddher bheda dhteś caiva guatas tri-vidha śṛṇu
procyamānam aśeea pthaktvena dhanañjaya

“Wahai Arjuna, sekarang dengarkan pembagian Inteligensia atau Buddhidan keteguhan hati berdasarkan masing-masing gua atau sifat.”

18:30

pravtti ca nivtti ca kāryākārye bhayābhaye
bandha moka ca yā vetti buddhi sā pārtha sāttviki

“Arjuna, Inteligensia yang secara tepat dapat menentukan saat untuk bertindak dan saat untuk tidak bertindak; apa yang mesti diperbuat, dan apa yang tidak; apa yang mesti ditakuti dan dihindari, dan apa yang tidak; apa yang mengikat dan apa yang membebaskan diri, adalah Inteligensia yang disebut Sāttvika.”

Bab 18: sloka: 31 – 35

18:31

yayā dharmam adharma ca kārya cākāryam eva ca
ayathāvat prajānāti buddhi sā pārtha rājasī

“Inteligensia yang tidak mampu membedakan antara Dharma (kebajikan) dan adharma (kebatilan); apa yang mesti dilakukan, dan apa yang mesti dihindari – adalah bersifat Rājasika.”

18:32

adharma dharmam iti yā manyate tamasāv
sarvārthān viparītāś ca buddhi sā pārtha tāmasī

“Wahai Arjuna, Inteligensia yang melihat adharma (kebatilan) sebagaidharma (kebajikan); dan, dalam segala hal, melihat kebalikan dari apa adanya; demikian, inteligensia yang tetutup oleh awan kebodohan seperti itu bersifat Tāmasika.”

18:33

dhtyā yayā dhārayate mana-prāendriya-kriyā
yogenāvyabhicāriyā dhti sā pārtha sāttviki

“Arjuna, Keteguhan atau Ketetapan Hati untuk mengendalikan gugusan pikiran serta perasaan (mind); prāa atau energi kehidupan dan indra dengan Yoga, adalah Keteguhan Hati bersifat Sāttvika.”

18:34

yayā tu dharma-kāmārthān dhtyā dhārayate’rjuna
prasagena phalākākī dhti sā pārtha rājasī

“Wahai Arjuna, Keteguhan Hati, yang membuat seseorang berkarya dengan penuh pamrih untuk ketenaran, harta dan berbagai kenikmatan dunia lainnya – adalah Keteguhan Hati yang bersifat Rājasika.”

18:35

yayā svapna bhaya śoka viāda madam eva ca
na vimuñcati durmedhā dhti sā pārtha tāmasī

“Arjuna, Keteguhan Hati Tāmasika yang bodoh, membuat seorang bermalas-malasan, takut, gelisah, murung, dan sia-sia.”

Bab 18: sloka: 36 – 40

18:36

sukha tv idānī tri-vidha śṛṇu me bharatarabha
abhyāsād ramate yatra dukhānta ca nigacchhati

“Arjuna, dengarlah tentang 3 macam ‘Suka’ atau Kebahagiaan, Suka yang jika diraih, mengakhiri segala duka.”

18:37

yat tad agre viam iva pariāme’mtopamam
tat sukha sāttvika proktam ātma-buddhi-prasāda-jam

“‘Suka’ atau Kebahagiaan yang awalnya terasa seperti racun, tapi akhirnya seperti Amta – Ambrosia Kehidupan Abadi; itulah Kebahagiaan atau ‘Suka’ Sāttvika yang merupakan hasil dari pikiran yang tenang, terkendali; dan pemahaman tentang kesejatian diri.”

18:38

viayendriya-sayogād yat tad agre’mtopamam
pariāme viam iva tat sukha rājasa smtam

“Kebahagiaan atau ‘Suka’ yang diperoleh dari interaksi indra dengan pemicu-pemicu di luar, awalnya terasa sebagai Amta, Ambrosia Kehidupan Abadi – namun, akhirnya terbukti bisa atau racun, adalah Kebahagiaan atau ‘Suka’ Rājasika.”

18:39

yad agre cānubandhe ca sukha mohanam ātmana
nidrālasya-pramādottha tat tāmasam udāhtam

“Kebahagiaan atau ‘Suka’ yang sejak awal hingga akhir menjauhkan Jiwa dari kesejatian dirinya; diperoleh dari tidur, bermalas-malasan, dan kecuekan egois –adalah Kebahagiaan atau ‘Suka’ Tāmasika.”

18:40

na tad asti pthivyā vā divi deveu vā puna
sattva prakti-jair mukta yad ebhi syāt tribhir guai

“Tak seorang pun di dunia, bahkan di alam para dewa atau malaikat, yang bebas dari pengaruh ketiga sifat yang berasal dari Prakti atau Alam Benda ini.”

Bab 18: sloka: 41 – 45

18:41

brāhmaa-katriya-viśā śūdraā ca parantapa
karmāi pravibhaktāni svabhāva-prabhavair guai

“Wahai Arjuna, para brāhmaa – cendekiawan, pendidik, pendeta, dan lain sebagainya; para kṣatriya – pengabdi, pembela negara dan bangsa;vaiśya – para pengusaha; dan śūdra – para pekerja, buruh, semuanya berkarya sesuai dengan kewajiban dan mengikuti sifat dasar mereka.”

18:42

śamo damas tapa śauca kāntir ārjavam eva ca
jñāna vijñānam āstikya brahma-karma svabhāva-jam

“Ketenangan, pengendalian pikiran dan indra; kesiapsediaan untuk memikul segala kesulitan demi sesuatu yang mulia; kesucian dan kemampuan untuk memaafkan dengan mudah; jujur, berpengetahuan, dan bijaksana; serta berkeyakinan pada Hyang Maha Kuasa – semuanya itu adalah Sifat dan Kewajiban seorang Brāhmaa.”

18:43

śaurya tejo dhtir dākya yuddhe cāpy apalāyanam
dānam īśvara-bhāvaś ca kātra karma svabhāva-jam

“Keberanian, kesaktian, keteguhan, kecekatan; tidak melarikan diri, dan penuh semangat di tengah medan perang, atau saat menghadapi tantangan lain; dermawan dan berwibawa – inilah Sifat dan Kewajiban seorang Kṣatriya atau Kesatria.”

18:44

kṛṣi-go-rakya-vāijya vaiśya-karma svabhāva-jam
paricaryātmaka karma śūdrasyāpi svabhāva-jam

“Bertani, berternak (memelihara sapi perah); dan berusaha dengan jujur – semua ini adalah Sifat dan Kewajiban Vaiśya atau Usahawan. Terakhir, bekerja (sesuai dengan kemahirannya) adalah Sifat dan Kewajiban paraŚūdra atau Pekerja.”

18:45

sve sve karmay abhirata sasiddhi labhate nara
sva-karma-nirata siddhi yathā vindati tac chṛṇu

“Berkarya sepenuh hati, sesuai dengan kewajiban, dan sifat alami atau potensi dirinya, seseorang mencapai kesempurnaan. Sekarang, dengarlah tentang cara penunaian kewajiban untuk meraih kesempurnaan tertinggi tersebut.”

Bab 18: sloka: 46 – 50

18:46

yata pravttir bhūtānā yena sarvam ida tatam
sva-karmaā tam abhyarcya siddhi vindati mānava

“Kesempurnaan Tertinggi tercapai oleh seseorang yang menunaikan kewajibannya sesuai dengan sifat alami atau potensi dirinya, dengan semangat berbakti pada Dia Hyang adalah Asal-Usul semua makhluk, dan Meliputi alam semesta.”

18:47

śreyān sva-dharmo vigua para-dharmāt sv-anuṣṭhitāt
svabhāva-niyata karma kurvan nāpnoti kilbiam

“Berkarya sesuai sifat alami atau potensi diri, walau terasa tidak sempurna – sesungguhnya lebih baik dan mulia dari pekerjaan yang tidak sesuai dengan sifat alami dan potensi diri, walau tampak sempurna.”

18:48

saha-ja karma kaunteya sa-doam api na tyajet
sarvārambhā hi doea dhūmenāgnir ivāv

“Oleh karena itu, wahai Arjuna, janganlah berpaling dari kewajibanmu (sesuai dengan sifat alami dan potensi dirimu), hanya karena takut melakukan kesalahan. Sebab, kesalahan bisa terjadi dalam setiap usaha, sebagaimana api tak terpisahkan dari asap.”

18:49

asakta-buddhi sarvatra jitātmā vigata-spha
naikarmya-siddhi paramā sanyāsenādhigacchati

“Seorang bijak yang tidak terikat pada sesuatu; dirinya terkendali; dan tidak lagi mengejar kenikmatan indra – meraih Kebebasan Sempurna dari segala (konsekuensi) perbuatannya, lewat Sanyās atau Pelepasan Diri (dari keterikatan pada hasil).”

18:50

siddhi prāpto yathā brahma tathāpnoti nibodha me
samāsenaiva kaunteya niṣṭhā jñānasya yā parā

“Sekarang Arjuna, ketahuilah secara singkat bagaimana seseorang yang telah meraih Kesempurnaan Diri, sekaligus mencapai Brahman, Kesadaran Jiwa yang Tertinggi; yang juga adalah Pengetahuan Tertinggi atau Pengetahuan Sejati.”

Bab 18: sloka: 51 – 55

18:51

buddhyā viśuddhayā yukto dhtyātmāna niyamya ca
śabdādīn viayās tyaktvā rāga-dveau vyudasya ca

“Dengan bekal kesucian budi (berpandangan jernih); teguh dalam Kesadaran Jiwa; dirinya terkendali; tak terpengaruh oleh apa yang dikatakan orang (pendapat-pendapat yang tidak menunjang Kesadaran Jiwa); bebas dari keterikatan pada dunia benda, dan dualitas suka/tak-suka.”

18:52

vivikta-sevī laghv-āśī yata-vāk-kāya-mānasa
dhyāna-yoga-paro nitya vairāgya samupāśrita

“Ia senantiasa menarik diri ke tempat yang sepi; makan secukupnya; mengupayakan pengendalian badan, indra, ucapan serta pikiran; memusatkan seluruh kesadarannya pada diri yang sejati (melakoni Meditasi atau Dhyāna Yoga); dan berlindung pada Vairāgya, melepaskan segala keterikatan duniawi.”

18:53

ahakāra bala darpa kāma krodha parigraham
vimucya nirmama śānto brahma-bhūyāya kalpate

“Ia yang telah bebas dari ke-‘aku’-an atau ego, keangkuhan karena kekuatan, kedudukan, kekuasaan, dan sebagainya; nafsu; amarah; dan keterikatan pada harta-benda – meraih kedamaian dan kelayakan untuk mencapai Brahman, Kesadaran Tertinggi.”

18:54

brahma-bhūta prasannātmā na śocati na kākati
sama sarveu bhūteu mad-bhakti labhate parām

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.”

18:55

bhaktyā mām abhijānāti yāvān yaś cāsmi tattvata
tato mā tattvato jñātvā viśate tad-anantaram

“Dengan semangat bhakti atau panembahannya itu, ia mengetahui Hakikat Diri-Ku, bagaimana dan seperti apakah Sang Jiwa Agung. Kemudian, Pengetahuan Sejati itu pula mempersatukan dirinya dengan-Ku.”

Selanjutnya Gita Bab 18: sloka: 56 – 78