Bhagawad Gita Bab. 2

87 / 100

Bhagawad Gita: Percakapan Kedua – Akal Sehat, Memahami Alam Benda dan Melampauinya

2:1

sañjaya uvāca ta tathā kpayāviṣṭam aśru-pūrākulekaam

Advertisements

viīdantam ida vākyam uvāca madhusūdana

Sañjaya berkata:

“Melihat keadaan Arjuna yang sangat menyedihkan, penuh kegelisahan hati, dengan air mata bercucuran, serta kepala menunduk ke bawah; Kṛṣṇa berkata demikian:”

2:2

śrī-bhagavān uvāca kutas tvā kaśmalam ida viame samupasthitam

anārya-juṣṭam asvargyam akīrti-karam arjuna

Śrī Bhagavān (Kṛṣṇa Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Dalam keadaan genting dan di tengah krisis seperti ini, Arjuna, dari manakah munculnya kelemahan hatimu, yang sungguh tidak pantas bagi seorang kesatria, tidak mulia, tidak terpuji, dan sangat memalukan.”

2:3

klaibya mā sma gama pārtha naitat tvayy upapadyate
kudra hdaya-daurbalya tyaktvottiṣṭha parantapa

“Janganlah menjadi seorang pengecut, wahai Arjuna; sikap yang demikian sungguh tidaklah cocok bagimu. Bebaskan dirimu dari kelemahan hati. Bangkitlah, engkau yang selama ini telah menaklukkan banyak musuh di medan perang.”

2:4

arjuna uvāca katha bhīmam ahakhye droa ca madhusūdana

iubhi pratiyotsyāmi pūjārhāv ari-sūdana

Arjuna berkata:

“Wahai Kṛṣṇa, bagaimana aku bisa membunuh Bhīṣma dan Droṇa? Bagaimana aku bisa mengangkat senjata melawan mereka, untuk memanahi mereka berdua yang sangat kuhormati?”

2:5

gurūn ahatvā hi mahānubhāvān śreyo bhoktu bhaikyam apīha loke
hatvārtha-kāmāstu gurūn ihaiva bhuñjīya bhogān rudhira-pradigdhān

“Daripada membunuh guru dan orangtua yang sepatutnya kuhormati,lebih baik hidup sebagai pengemis dengan meminta-minta; kenikmatan dunia apa yang akan kuperoleh dengan membunuh mereka? Kenikmatan duniawi yang ternoda oleh darah mereka – itu saja.”

2:6

na caitad vidma kataran no garīyo yad vā jayema yadi vā no jayeyu
yān eva hatvā na jijīviāmas te’vasthitā pramukhe dhārtarāṣṭ

“Kita tidak tahu, apa yang menjadi pilihan terbaik bagi kita. Mana yang lebih baik, menaklukkan mereka, membunuh mereka; atau, tertaklukkan oleh mereka, terbunuh oleh mereka? Kita berhadapan dengan putra Paman Dhṛtarāṣṭra, gairah hidup apa yang akan tersisa setelah membunuh mereka?”

2:7

kārpaya-doopahata-svabhāva pcchāmi tvā dharma-saha-cetā
yac chreya syān niścita brūhi tan me śiyas te’ha śādhi mā tvā prapannam

“Karena rasa kasihan, badanku terasa lemas; pikiranku kacau tentang apa yang menjadi kewajibanku. Anggaplah aku sebagai murid-Mu, katakan jalan mana yang mesti kutempuh, mana yang mesti kupilih?”

2:8

na hi prapaśyāmi mamāpanudyād yac chokam ucchoaam indriyāām
avāpya bhūmāv asapatnam ddha rājya surāām api cādhipatyam

“Sungguh aku tidak tahu bagaimana mengatasi rasa duka yang telah melemahkan seluruh badan dan indra-indraku. Kendati aku berhasil menaklukkan seluruh dunia dan menguasainya tanpa ada yang dapat menandingiku; walau aku memperoleh kekuasaan dan harta yang berlimpah, bahkan kekuasaan atas alam para dewa; kekuasaan terhadap kekuatan-kekuatan alam sekalipun; aku tidak melihat jalan keluar dari duka yang sedang kuhadapi.”

2:9

sañjaya uvāca evam uktvā hṛṣīkeśa guākeśa parantapa

na yotsya iti govindam uktvā tūṣṇī babhūva ha

Sañjaya berkata:

“‘Aku tidak mau berperang,’ demikian kata Arjuna kepada Kṛṣṇa – kemudian membisu.”

2:10

tam uvāca hṛṣīkeśa prahasann iva bhārata
senayor ubhayor madhye viīdantam ida vaca

“Baginda, melihat keadaan Arjuna yang sedemikian rupa gelisah, Kṛṣṇa malah tersenyum. Berada di tengah dua pasukan yang siap bertempur, demikan Ia bersabda:”

2:11

śrī-bhagavān uvāca aśocyān anvaśocas tva prajñā-vādāś ca bhāase

gatāsūn agatāsūś ca nānuśocanti paṇḍitā

Śrī Bhagavān (Kṛṣṇa Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Kau bergelisah hati dan menangisi mereka yang tidak perlu ditangisi.Kata-katamu seolah penuh kebijaksanaan, padahal para bijak tidak pernah bersedih hati baik bagi mereka yang masih hidup, maupun yang sudah mati.”

2:12

na tv evāha jātu nāsa na tva neme janādhipā
na caiva na bhaviyāma sarve vayam ata param

“Tidak pernah ada masa di mana Aku, engkau, atau para pemimpin yang sedang kau hadapi saat ini – tidak ada, tidak eksis. Tak akan pula ada masa di mana kita semua tidak ada, tidak eksis lagi.”

2:13

dehino’smin yathā dehe kaumāra yauvana jarā
tathā dehāntara-prāptir dhīras tatra na muhyati

“Masa kecil, dewasa, pun masa tua adalah ‘kejadian-kejadian’ yang terjadi pada badan yang dihuni Jiwa. Kemudian, setelah meninggalkan badan lama, Jiwa memperoleh badan baru. Para bijak tidak pernah meragukan hal ini atau terbingungkan olehnya.”

2:14

mātrā-sparśās tu kaunteya śītoṣṇa-sukha-dukha-dā
āgamāpāyino’nityās tās titikasva bhārata

“Sensasi-sensasi fisik – hubungan indra dengan objek-objek kebendaan di alam benda, wahai Arjuna, menyebabkan pengalaman dingin, panas, suka, dan duka. Semua pengalaman itu silih berganti, datang dan pergi. Pengalaman-pengalaman itu tidaklah langgeng, tidak abadi, tidak untuk selamanya. Sebab itu, Arjuna, belajarlah untuk melewati semuanya dengan ketabahan hati.”

2:15

ya hi na vyathayanty ete purua puruarabha
sama-dukha-sukha dhīra so’mtatvāya kalpate

“Wahai Arjuna, para bijak, yang tidak terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman yang tercipta karena hubungan antara indra dan dunia benda; mereka yang menganggap sama suka dan duka – sesungguhnya tengah menuju keabadian.”

2:16

nāsato vidyate bhāvo nābhāvo vidyate sata
ubhayor api dṛṣṭo’ntas tv anayos tattva-darśibhi

“Adalah suatu keniscayaan bahwa apa yang tidak ada, tak akan pernah ada; dan apa yang ada, tak akan pernah tidak ada. Keniscayaan kedua hal ini dipahami mereka yang telah menyaksikan kebenaran.”

2:17

avināśi tu tad viddhi yena sarvam ida tatam
vināśam avyayasyāsya na kaścit kartum arhati

“Ketahuilah bahwa Hyang Meliputi alam semesta adalah Tak Termusnahkan. Tiada seorang pun yang dapat memusnahkan Ia Hyang Tak Termusnahkan.”

2:18

antavanta ime dehā nityasyoktā śarīria
anāśino’prameyasya tasmād yudhyasva bhārata

“Ia Hyang Kekal Abadi, Tak Termusnahkan, dan Tak Terukur (Kemuliaan, Keagungan, dan Kekuasaan-Nya) adalah Hyang Menempati wujud manusia dan wujud makhluk-makhluk lainnya. Maka, Arjuna, bertempurlah, hadapi tantangan ini!”

2:19

ya ena vetti hantāra yaś caina manyate hatam
ubhau tau na vijānīto nāya hanti na hanyate

“Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan, yang menganggapnya terbunuh – kedua duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.”

2:20

na jāyate mriyate vā kadācin nāya bhūtvā bhavitā vā na bhūya
ajo nitya śāśvato’ya purāo na hanyate hanyamāne śarīre

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, atau terbunuh.”

2:21

vedāvināśina nitya ya enam ajam avyayam
katha sa purua pārtha ka ghātayati hanti kam

“Seseorang yang mengetahui hal ini; mengenali dirinya sebagai yang tak-termusnahkan, tak-terlahirkan, dan tidak pernah punah, bagaimana pula ia dapat terbunuh, Arjuna? Dan, bagaimana pula ia dapat membunuh?”

2:22

vāsāsi jīrāni yathā vihāya navāni ghāti naro’parāi
tathā śarīrāi vihāya jīrāny anyāni sayāti navāni dehī

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseorang memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.”

2:23

naina chindanti śastrāi naina dahati pāvaka
na caina kledayanty āpo na śoayati māruta

“Senjata tidak dapat membunuh Jiwa yang menghidupi badan. Api tidak dapat membakar-Nya; Air tidak dapat membasahi-Nya; dan, Angin tidak dapat mengeringkan-Nya.”

2:24

acchedyo’yam adāhyo’yam akledyo’śoya eva ca
nitya sarva-gata sthāur acalo’ya sanātana

“(Jiwa) tidak dapat dilukai, dibakar, dibasahi ataupun dikeringkan. Ketahuilah bahwa Ia Abadi ada-nya; meliputi segalanya, tetap; tak-tergoyahkan, dan berada sejak awal mula.”

2:25

avyakto’yam acintyo’yam avikāryo’yam ucyate
tasmād eva viditvaina nānuśocitum arhasi

“Ia (Jiwa), disebut Tidak Berwujud, Tidak Nyata; Melampaui Pikiran dan Tak-Berubah. Dengan memahami hal ini, janganlah engkau bersedih-hati.”

2:26

atha caina nitya-jāta nitya vā manyase mtam
tathāpi tva mahā-bāho naiva śocitum arhasi

“Seandainya kau anggap Ia (Jiwa) berulang kali lahir dan mati, terus-menerus, tanpa henti, tetap juga, Arjuna, layaknya kau tidak menangisi-Nya.”

2:27

jātasya hi dhruvo mtyur dhruva janma mtasya ca
tasmād aparihārye’rthe na tva śocitum arhasi

“Bagi yang lahir, kematian adalah keniscayaan; bagi yang mati, kelahiran adalah keniscayaan. Sebab itu, janganlah bersedih hati, menangisi sesuatu yang sudah pasti terjadi.”

2:28

avyaktādīni bhūtāni vyakta-madhyāni bhārata
avyakta-nidhanāny eva tatra kā paridevanā

“Wahai Arjuna, makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata – tidak berwujud; dan, berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Sebab itu, apa yang mesti disesali?”

2:29

āścarya-vat paśyati kaścid enam āścarya-vad vadati tathaiva cānya
āścarya-vac cainam anya śṛṇoti śrutvāpy ena veda na caiva kaścit

“Ada yang terpesona oleh keajaiban Jiwa sebagaimana dipahaminya; ada yang mengetahui keajaiban Jiwa; ada yang mendengar dan terheran-heran.
Kendati demikian, setelah mendengar tentangnya, ia tetap saja tidak memahaminya.”

2:30

dehī nityam avadhyo’ya dehe sarvasya bhārata
tasmāt sarvāi bhūtāni na tva śocitum arhasi

“Dia – Jiwa yang menghidupi badan sekian makhluk adalah Tak-Termusnahkan untuk selamanya. Sebab itu, Arjuna, kau tidak perlu berduka untuk siapapun juga.”

2:31

sva-dharmam api cāvekya na vikampitum arhasi
dharmyād dhi yuddhāc chreyo’nyat katriyasya na vidyate

“(Dengan menyadari hakikat dirimu sebagai Jiwa;) dengan menyadari tugasmu, kewajibanmu sebagai seorang kesatria, janganlah engkau gentar menghadapi pertempuran, tantangan di depan mata. Sungguh, bagi seorang kesatria tiadalah sesuatu yang lebih mulia dari pertempuran demi penegakan kebajikan dan keadilan.”

2:32

yadcchayā copapanna svarga-dvāram apāvtam
sukhina katriyā pārtha labhante yuddham īdśam

“Betapa beruntungnya para kesatria yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur demi menegakkan Kebajikan dan Keadilan, baginya, Arjuna, seolah gerbang surga terbuka lebar!”

2:33

atha cet tvam ima dhārmya sagrāma na kariyasi
tata sva-dharma kīrti ca hitvā pāpam avāpsyasi

“Apabila kau tidak bertempur demi Kebajikan dan Keadilan; apabila kau menghindari kewajiban yang mulia ini, maka hanyalah celaan yang akan kau peroleh.”

2:34

akīrti cāpi bhūtāni kathayiyanti te’vyayām
sabhāvitasya cākīrtir maraād atiricyate

“Sepanjang masa semua orang akan mengenang perbuatanmu yang tercela. Dan, bagi seorang terhormat, cercaan seperti itu sungguh lebih berat dari kematian sekalipun.”

2:35

bhayād raād uparata masyante tvā mahā-rathā
yeā ca tva bahu-mato bhūtvā yāsyasi lāghavam

“Para Kesatria Agung akan menyimpulkan bahwa kau tidak bertempur karena takut. Mereka yang selama ini menghormatimu, akan berbalik mencelamu, meremehkanmu.”

2:36

avācya-vādāś ca bahūn vadiyanti tavāhitā
nindantas tava sāmarthya tato dukhatara nu kim

“Apalagi mereka yang berlawanan denganmu. Mereka akan mencelamu, dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Mereka akan menertawakan kelemahanmu. Penderitaan apa yang lebih menyakitkan?”

2:37

hato vā prāpsyasi svarga jitvā vā bhokyase mahīm
tasmād uttiṣṭha kaunteya yuddhāya kta-niścaya

“Jika terbunuh dalam perang demi kebajikan ini, kau akan mendapatkan tempat yang layak di surga, di alam setelah kematian. Dan, apabila kau menang, kau akan menikmati kekuasaan dunia. Sebab itu, Arjuna, bangkitlah, tetapkanlah hatimu untuk berperang demi kebenaran!”

2:38

sukha-dukhe same ktvā lābhālābhau jayājayau
tato yuddhāya yujyasva naiva pāpam avāpsyasi

“Dengan menganggap sama suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan,kemenangan dan kekalahan, bertempurlah! Demikian kau akan bebas dari segala dosa-kekhilafan yang dapat terjadi dalam menjalankan tugasmu.”

2:39

eā te’bhihitā sākhye buddhir yoge tv imā śṛṇu
buddhyā yukto yayā pārtha karma-bandha prahāsyasi

“Apa yang telah kau dengarkan ini adalah kebijaksanaan, ajaran luhur dari sudut pandang khya, yaitu Buddhi Yoga, pandangan berdasarkan pertimbangan dan analisis yang matang. Sekarang, dengarkan ajaran dari sudut pandang Karma Yoga. Jika kau berketetapan hati untuk menerima dan menjalaninya, maka kau dapat berkarya secara bebas tanpa kekhawatiran; dan, bebas pula dari rasa takut akan dosa-kekhilafan. Demikian, tiada lagi akibat karma atau perbuatan, yang dapat membelenggumu.”

2:40

nehābhikrama-nāśo’sti pratyavāyo na vidyate
sv-alpam apy asya dharmasya trāyate mahato bhayāt

“Berkarya demikian, tiada upaya yang tersia-sia; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir, dan cemas.”

2:41

vyavasāyātmikā buddhir ekeha kuru-nandana
bahu-śākhā hy anantāś ca buddhayo’vyavasāyinām

“Wahai Arjuna, mereka yang paham dan teguh dalam keyakinannya, senantiasa berkarya dengan kesadaran – dengan menggunakan Buddhiatau Inteligensia. Sementara itu, mereka yang tidak paham, tidak pula memiliki keyakinan, karena pikiran mereka masih bercabang.”

2:42

yām imā pupitā vāca pravadanty avipaścita
veda-vāda-ratā pārtha nānyad astīti vādina

“Bagi mereka yang dungu, wahai Arjuna, apa yang tersurat dalam Veda – kitab-kitab suci – adalah segalanya.”

2:43

kāmātmāna svarga-parā janma-karma-phala-pradām
kriyā-viśea-bahulā bhogaiśvarya-gati prati

“Mereka, para dungu itu – penuh dengan berbagai keinginan duniawi;tujuan mereka hanyalah kenikmatan surga; atau kelahiran kembali di dunia-benda – untuk itulah mereka berkarya. Bermacam-macam ritus, upacara yang mereka lakukan, pun semata untuk meraih kenikmatan indrawi, dan kekuasaan duniawi.”

2:44

bhogaiśvarya-prasaktānā tayāpahta-cetasām
vyavasāyātmikā buddhi samādhau na vidhīyate

“Mereka, para dungu, yang terikat pada kenikmatan indrawi dan kekuasaan duniawi; terbawa oleh janji-janji tentang surga dan sebagainya; sebab itu mereka tidak bisa meraih kesadaran-diri, yang dapat mengantar pada samādhi, keseimbangan, pencerahan.”

2:45

trai-guya-viayā vedā nistrai-guyo bhavārjuna
nirdvandvo nitya-satva-stho niryoga-kema ātmavān

“Veda, kitab-kitab suci bicara tentang tiga sifat utama alam benda.Lampauilah ketiga sifat itu, wahai Arjuna. Bebaskan dirimu dari perangkap dan pengaruh dualitas yang tercipta dari ketiga sifat itu. Berpegang teguhlah pada Kebenaran Hakiki tentang Jiwa; bebas dari pikiran-pikiran yang mengejar kenikmatan serta kekuasaan, beradalah senantiasa dalam Kesadaran Jiwa.”

2:46

yāvān artha udapāne sarvata samplutodake
tāvān sarveu vedeu brāhmaasya vijānata

“Bagi seorang bijak yang telah meraih Kesadaran Hakiki tentang dirinya,pengetahuan dari Veda – kitab-kitab suci – ibarat kolam di daerah yang berlimpah air, tidak akan pernah kekurangan air.”

2:47

karmay evādhikāras te mā phaleu kadācana
mā karma-phala-hetur bhūr mā te sago’stv akarmai

“Kau berhak atas, atau hanyalah dapat mengendalikan karyamu, perbuatanmu, apa yang kau lakukan; kau tidak dapat mengendalikan hasil dari karyamu, perbuatanmu. Sebab itu, janganlah menjadikan hasil sebagai tujuanmu berkarya; janganlah menjadikan hasil sebagai pendorong atau motivasi untuk berkarya, untuk berbuat sesuatu. Namun, jangan pula berdiam diri dan tidak berkarya.”

2:48

yoga-stha kuru karmāi saga tyaktvā dhanañjaya
siddhy-asiddhyo samo bhūtvā samatva yoga ucyate

“Berkaryalah dengan Kesadaran Jiwa – kemanunggalan diri dengan semesta – wahai Arjuna. Berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah yang disebut Yoga.”

2:49

dūrea hy avara karma buddhi-yogād dhanañjaya
buddhau śaraam anviccha kpaā phala-hetava

“Wahai Arjuna, berkarya tanpa Kesadaran Yoga, tanpa keseimbangan diri, tidak berarti banyak. Sebab itu, hiduplah dengan penuh kesadaran.Berlindunglah pada kesadaran diri. Sungguh sangat menyedihkan keadaan mereka yang berkarya tanpa kesadaran, tanpa keseimbangan diri, dan semata untuk meraih hasil cepat dari segala perbuatannya.”

2:50

buddhi-yukto jahātīha ubhe sukta-dukte
tasmād yogāya yujyasva yoga karmasu kauśalam

“Ia yang telah meraih kesadaran, ia yang hidup berkesadaran dalam keseimbangan diri, sesungguhnya telah terbebaskan dari konsekuensi baik-buruk atas segala perbuatannya di dunia ini. Sebab itu, lakonilahYogaYoga adalah yang membuat seorang pelaku menjadi terampil dan efisien, dalam segala pekerjaannya.”

2:51

karma-ja buddhi-yuktā hi phala tyaktvā manīia
janma-bandha-vinirmuktā pada gacchhanty anāmayam

“Para bijak yang berkesadaran demikian (Yoga; seimbang, terampil) tidak lagi terikat pada hasil perbuatannya. Bebas dari kelahiran ulang, mereka terbebaskan pula dari segala derita (di dunia, maupun di alam setelah kematian).”

2:52

yadā te moha-kalila buddhir vyatitariyati
tadā gantāsi nirveda śrotavyasya śrutasya ca

“Ketika kesadaran telah melampaui awan tebal kebingungan yang bersifat ilusif, maka kau menjadi tawar, tidak lagi peduli pada segala apa yang pernah, dan akan kau dengarkan (sebab, semuanya itu hanyalah pengetahuan belaka. Sementara, kesadaran adalah pengalaman pribadi).”

2:53

śruti-vipratipannā te yadā sthāsyati niścalā
samādhāv acalā buddhis tadā yogam avāpsyasi

“Kukuh dan teguh dalam Kesadaran Meditatif, ketika kau telah meraih keseimbangan-diri, yang tak-tergoyahkan oleh sesuatu apa pun; maka kau tidak lagi membutuhkan berbagai macam ritus, upacara dan sebagainya. Saat itu, kau telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga, kau telah menemukan jati-dirimu (sebagai Jiwa).”

2:54

arjuna uvāca sthita-prajñasya kā bhāā samādhi-sthasya keśava

sthita-dhī ki prabhāeta kim āsīta vrajeta kim

Arjuna bertanya:

“Wahai Kṛṣṇa, bagaimanakah menjelaskan seseorang yang sudah teguh dalam kesadarannya; tak tergoyahkan, dan senantiasa berada dalam keadaan meditatif dan keseimbangan diri? Bagaimanakah ia berbicara dan bertindak dalam keseharian hidupnya?”

2:55

śrī-bhagavān uvāca prajahāti yadā kāmān sarvān pārtha mano-gatān

ātmany evātmanā tuṣṭa sthita-prajñas tadocyate

Śrī Bhagavān (Kṛṣṇa Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Wahai Arjuna, ia yang telah berhasil melampaui semua keinginan yang muncul dari gugusan pikiran serta perasaan; dan puas diri, puas dengan dirinya sendiri, adalah seorang Sthitaprajña – seorang bijak yang teguh, tak tergoyahkan lagi.”

2:56

dukhev anudvigna-manā sukheu vigata-spha
vīta-rāga-bhaya-krodha sthita-dhīr munir ucyate

“Ia, yang pikirannya tak terganggu saat mengalami kemalangan; ia yang tidak lagi mengejar kenikmatan indra, jasmani; ia yang sudah bebas dari hawa-nafsu, rasa takut, dan amarah; ia yang senantiasa berada dalam kesadaran meditatif, seimbang dalam suka dan duka – disebut seorangmuni, seorang bijak yang telah mencapai ketenangan diri, ketenteraman batin.”

2:57

ya sarvatrānabhisnehas tat tat prāpya śubhāśubham
nābhinandati na dveṣṭi tasya prajñā pratiṣṭhitā

“Di mana pun dan dalam keadaan apa pun – ia tidak terikat dengan sesuatu. Ia tidak terjebak dalam dualitas menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak tersanjung (ketika dipuji), pun tidak gusar (ketika dicaci); Kesadaran Jiwanya sungguh tak tergoyahkan lagi.”

2:58

yadā saharate cāya kūrmo’gānīva sarvaśa
indriyāīndriyārthebhyas tasya prajñā pratiṣṭhitā

“Ia yang dapat menarik dirinya, indranya, dari objek-objek di luar diri, sebagaimana seekor penyu menarik anggota badannya ke dalam cangkangnya, sesungguhnya sudah tak tergoyahkan lagi kesadarannya.”

2:59

viayā vinivartante nirāhārasya dehina
rasa-varja raso’py asya para dṛṣṭ nivartate

“(Demikian, dengan menarik diri dari objek-objek di luar), seseorang dapat memisahkan dirinya dari pemicu-pemicu di luar diri yang senantiasa menggoda. Kendati demikian, ‘rasa’ dari apa yang pernah dialami sebelumnya, bisa jadi masih tersisa (dan, sewaktu-waktu bisa menimbulkan keinginan untuk mengulangi pengalaman sebelumnya).Namun, ketika ia berhadapan dengan Hyang Agung, meraih kesadaran diri, menyadari Hakikat-Dirinya sebagai Jiwa, maka rasa yang tersisa itu pun sirna seketika.”

2:60

yatato hy api Kaunteya puruasya vipaścita
indriyāi pramāthīni haranti prasabha mana

“Wahai Arjuna, indra yang terangsang, menjadi liar, bergejolak, dan bahkan dapat menghanyutkan gugusan pikiran dan perasaan (mind) para bijak yang sedang berupaya meraih kesadaran diri atau pencerahan…”

2:61

tāni sarvāi sayamya yukta āsīta mat-para
vaśe hi yasyendriyāi tasya prajñā pratiṣṭhitā

“Setelah mengendalikan seluruh indra, hendaknya seorang bijak yang ingin menemukan jati dirinya, memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, demikian kesadarannya tak akan tergoyahkan.”

2:62

dhyāyato viayān pusa sagas teūpajāyate
sagāt sañjāyate kāma kāmāt krodho’bhijāyate

“Dalam diri seseorang yang senantiasa memikirkan objek-objek pemikat indra – timbullah ketertarikan dan keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan dan keterikatan, timbul keinginan untuk memilikinya. Dan, dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).”

2:63

krodhād bhavati samoha samohāt smti-vibhrama
smti-bhraśād buddhi-nāśo buddhi-nāśāt praaśyati

“Amarah membingungkan, pandangan dan pikiran seseorang menjadi berkabut; dalam keadaan bingung, terlupakanlah segala nilai-nilai luhur, dan lenyap pula kemampuan untuk memilah antara yang tepat dan yang tidak tepat, sesuatu yang mulia dan sesuatu yang sekadar menyenangkan. Demikian, seseorang tersesatkan oleh ulahnya sendiri.”

2:64

rāga-dvea-vimuktais tu viayān indriyaiś caran
ātma-vaśyair vidheyātmā prasādam adhigacchati

“Seseorang yang bebas dari ketertarikan dan ketaktertarikan, suka dan tak-suka; kendati berada di tengah objek-objek duniawi penggoda indra, tetaplah dapat mengendalikan dirinya. Demikian, dengan pengendalian diri, ia meraih ketenangan, ketenteraman batin.”

2:65

prasāde sarva-dukhānā hānir asyopajāyate
prasanna-cetaso hy āśu buddhi paryavatiṣṭhate

“Dalam keadaan tenang, tenteram – berakhirlah segala duka, segala derita. Ketika gugusan pikiran dan perasaan tenang, buddhi atau inteligensia berkembang, maka tercapailah kesempurnaan dankebahagiaan dalam hidup berkesadaran.”

2:66

nāsti buddhir ayuktasya na cāyuktasya bhāvanā
na cābhāvayata śāntir aśāntasya kuta sukham

“Tiada buddhi, tiada inteligensia dalam diri yang tak terkendali, tiada pula keseimbangan diri serta kesadaran; dan tanpa keseimbangan, tanpa kesadaran, tiada kedamaian, ketenangan, ketenteraman. Lalu, bagaimana pula meraih kebahagiaan sejati tanpa kedamaian?”

2:67

indriyāā hi caratā yan mano’nuvidhīyate
tad asya harati prajñā vāyur nāvam ivāmbhasi

“Ketika gugusan pikiran serta perasaan terbawa oleh indra, dan berada di bawah kendalinya; maka sirnalah akal-sehat, segala kebijaksanaan serta kesadaran. Persis seperti perahu yang hanyut terbawa angin kencang.”

2:68

tasmād yasya mahā-bāho nighītāni sarvaśa
indriyāīndriyārthebhyas tasya prajñā pratiṣṭhitā

“Sebab itu, Arjuna, seseorang yang telah berhasil mengendalikan indranya dan menarik mereka dari objek-objek duniawi yang dapat memikat dan mengikatnya – sudah teguh adanya, sudah tak tergoyahkan lagi.”

2:69

yā niśā sarva-bhūtānā tasyā jāgarti sayamī
yasyā jāgrati bhūtāni sā niśā paśyato mune

“Malam bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari jati-dirinya, adalah saat para bijak yang sadar akan jati-dirinya, berada dalam keadaan jaga. Dan siang bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.”

2:70

āpūryamāam acala-pratiṣṭha samudram āpa praviśanti yadvat
tadvat kāmā ya praviśanti sarve sa śāntim āpnoti na kāma-kāmī

“Sebagaimana laut tidak terpengaruh oleh air sungai dan hujan yang memasukinya – ia tetap tenang; pun demikian dengan seorang bijak, ia tidak terganggu oleh keinginan-keinginan yang muncul di dalam dirinya.Maka, ia mencapai kedamaian, ketenangan sejati. Namun, tidaklah demikian keadaan seseorang yang tidak bijak, dan terpengaruh oleh keinginan-keinginannya.”

2:71

vihāya kāmān ya sarvān pumāś carati nispha
nirmamo nirahakāra sa śāntim adhigacchati

“Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, atau mengharapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan ke-‘aku’-an ilusif – meraih kedamaian sejati.”

2:72

eā brāhmī sthiti pārtha nainā prāpya vimuhyati
sthitvāsyām anta-kāle’pi brahma-nirvāam cchati

“Wahai Arjuna, inilah tingkat kemuliaan tertinggi, inilah Kesadaran Brahman yang suci; setelah berada dalam kesadaran ini, seseorang tidak pernah bingung lagi. Tetap berada dalam kesadaran ini saat ajal tiba – ia mencapai Kebahagiaan Sejati, Kasunyatan Abadi atau Brahmanirvāṇa.”

Demikian berakhirlah Percakapan Kedua.

Sebelumnya

Selanjutnya →

Sumber; https://bhagavadgita.or.id/percakapan-2/

Advertisements