Percakapan Kedua – Bhagawad Gita bab 2

Gita Bab 2: Akal Sehat, Memahami Alam Benda dan Melampauinya

Gita bab 2 – Ringkasan: Menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Krishna. Sri Krishna mulai memberi pencerahan kepada Arjuna, dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat kekal. Kresna menjelaskan proses perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.

Bab 2: sloka 1 – 5

2:1

sañjaya uvāca taṁ tathā kṛpayāviṣṭam aśru-pūrṇākulekṣaṇam

viīdantam ida vākyam uvāca madhusūdana

Sañjaya berkata:

“Melihat keadaan Arjuna yang sangat menyedihkan, penuh kegelisahan hati, dengan air mata bercucuran, serta kepala menunduk ke bawah; Kṛṣṇa berkata demikian:”

2:2

śrī-bhagavān uvāca kutas tvā kaśmalam ida viame samupasthitam

anārya-juṣṭam asvargyam akīrti-karam arjuna

Śrī Bhagavān (Kṛṣṇa Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Dalam keadaan genting dan di tengah krisis seperti ini, Arjuna, dari manakah munculnya kelemahan hatimu, yang sungguh tidak pantas bagi seorang kesatria, tidak mulia, tidak terpuji, dan sangat memalukan.”

2:3

klaibya mā sma gama pārtha naitat tvayy upapadyate
kudra hdaya-daurbalya tyaktvottiṣṭha parantapa

“Janganlah menjadi seorang pengecut, wahai Arjuna; sikap yang demikian sungguh tidaklah cocok bagimu. Bebaskan dirimu dari kelemahan hati. Bangkitlah, engkau yang selama ini telah menaklukkan banyak musuh di medan perang.”

2:4

arjuna uvāca katha bhīmam ahakhye droa ca madhusūdana

iubhi pratiyotsyāmi pūjārhāv ari-sūdana

Arjuna berkata:

“Wahai Kṛṣṇa, bagaimana aku bisa membunuh Bhīṣma dan Droṇa? Bagaimana aku bisa mengangkat senjata melawan mereka, untuk memanahi mereka berdua yang sangat kuhormati?”

2:5

gurūn ahatvā hi mahānubhāvān śreyo bhoktu bhaikyam apīha loke
hatvārtha-kāmāstu gurūn ihaiva bhuñjīya bhogān rudhira-pradigdhān

“Daripada membunuh guru dan orangtua yang sepatutnya kuhormati,lebih baik hidup sebagai pengemis dengan meminta-minta; kenikmatan dunia apa yang akan kuperoleh dengan membunuh mereka? Kenikmatan duniawi yang ternoda oleh darah mereka – itu saja.”

Bab 2: sloka: 6 – 10

2:6

na caitad vidmaḥ kataran no garīyo yad vā jayema yadi vā no jayeyuḥ
yān eva hatvā na jijīviṣāmas te’vasthitāḥ pramukhe dhārtarāṣṭrāḥ

“Kita tidak tahu, apa yang menjadi pilihan terbaik bagi kita. Mana yang lebih baik, menaklukkan mereka, membunuh mereka; atau, tertaklukkan oleh mereka, terbunuh oleh mereka? Kita berhadapan dengan putra Paman Dhṛtarāṣṭra, gairah hidup apa yang akan tersisa setelah membunuh mereka?”

2:7

kārpaya-doopahata-svabhāva pcchāmi tvā dharma-saha-cetā
yac chreya syān niścita brūhi tan me śiyas te’ha śādhi mā tvā prapannam

“Karena rasa kasihan, badanku terasa lemas; pikiranku kacau tentang apa yang menjadi kewajibanku. Anggaplah aku sebagai murid-Mu, katakan jalan mana yang mesti kutempuh, mana yang mesti kupilih?”

2:8

na hi prapaśyāmi mamāpanudyād yac chokam ucchoaam indriyāām
avāpya bhūmāv asapatnam ddha rājya surāām api cādhipatyam

“Sungguh aku tidak tahu bagaimana mengatasi rasa duka yang telah melemahkan seluruh badan dan indra-indraku. Kendati aku berhasil menaklukkan seluruh dunia dan menguasainya tanpa ada yang dapat menandingiku; walau aku memperoleh kekuasaan dan harta yang berlimpah, bahkan kekuasaan atas alam para dewa; kekuasaan terhadap kekuatan-kekuatan alam sekalipun; aku tidak melihat jalan keluar dari duka yang sedang kuhadapi.”

2:9

sañjaya uvāca evam uktvā hṛṣīkeśa guākeśa parantapa

na yotsya iti govindam uktvā tūṣṇī babhūva ha

Sañjaya berkata:

“‘Aku tidak mau berperang,’ demikian kata Arjuna kepada Kṛṣṇa – kemudian membisu.”

2:10

tam uvāca hṛṣīkeśa prahasann iva bhārata
senayor ubhayor madhye viīdantam ida vaca

“Baginda, melihat keadaan Arjuna yang sedemikian rupa gelisah, Kṛṣṇa malah tersenyum. Berada di tengah dua pasukan yang siap bertempur, demikan Ia bersabda:”

Bab 2: sloka: 11 – 15

2:11

śrī-bhagavān uvāca aśocyān anvaśocas tvaṁ prajñā-vādāṁś ca bhāṣase

gatāsūn agatāsūś ca nānuśocanti paṇḍitā

Śrī Bhagavān (Kṛṣṇa Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Kau bergelisah hati dan menangisi mereka yang tidak perlu ditangisi.Kata-katamu seolah penuh kebijaksanaan, padahal para bijak tidak pernah bersedih hati baik bagi mereka yang masih hidup, maupun yang sudah mati.”

2:12

na tv evāha jātu nāsa na tva neme janādhipā
na caiva na bhaviyāma sarve vayam ata param

“Tidak pernah ada masa di mana Aku, engkau, atau para pemimpin yang sedang kau hadapi saat ini – tidak ada, tidak eksis. Tak akan pula ada masa di mana kita semua tidak ada, tidak eksis lagi.”

2:13

dehino’smin yathā dehe kaumāra yauvana jarā
tathā dehāntara-prāptir dhīras tatra na muhyati

“Masa kecil, dewasa, pun masa tua adalah ‘kejadian-kejadian’ yang terjadi pada badan yang dihuni Jiwa. Kemudian, setelah meninggalkan badan lama, Jiwa memperoleh badan baru. Para bijak tidak pernah meragukan hal ini atau terbingungkan olehnya.”

2:14

mātrā-sparśās tu kaunteya śītoṣṇa-sukha-dukha-dā
āgamāpāyino’nityās tās titikasva bhārata

“Sensasi-sensasi fisik – hubungan indra dengan objek-objek kebendaan di alam benda, wahai Arjuna, menyebabkan pengalaman dingin, panas, suka, dan duka. Semua pengalaman itu silih berganti, datang dan pergi. Pengalaman-pengalaman itu tidaklah langgeng, tidak abadi, tidak untuk selamanya. Sebab itu, Arjuna, belajarlah untuk melewati semuanya dengan ketabahan hati.”

2:15

ya hi na vyathayanty ete purua puruarabha
sama-dukha-sukha dhīra so’mtatvāya kalpate

“Wahai Arjuna, para bijak, yang tidak terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman yang tercipta karena hubungan antara indra dan dunia benda; mereka yang menganggap sama suka dan duka – sesungguhnya tengah menuju keabadian.”

Bab 2: sloka: 16 – 20

2:16

nāsato vidyate bhāvo nābhāvo vidyate sataḥ
ubhayor api dṛṣṭo’ntas tv anayos tattva-darśibhiḥ

“Adalah suatu keniscayaan bahwa apa yang tidak ada, tak akan pernah ada; dan apa yang ada, tak akan pernah tidak ada. Keniscayaan kedua hal ini dipahami mereka yang telah menyaksikan kebenaran.”

2:17

avināśi tu tad viddhi yena sarvam ida tatam
vināśam avyayasyāsya na kaścit kartum arhati

“Ketahuilah bahwa Hyang Meliputi alam semesta adalah Tak Termusnahkan. Tiada seorang pun yang dapat memusnahkan Ia Hyang Tak Termusnahkan.”

2:18

antavanta ime dehā nityasyoktā śarīria
anāśino’prameyasya tasmād yudhyasva bhārata

“Ia Hyang Kekal Abadi, Tak Termusnahkan, dan Tak Terukur (Kemuliaan, Keagungan, dan Kekuasaan-Nya) adalah Hyang Menempati wujud manusia dan wujud makhluk-makhluk lainnya. Maka, Arjuna, bertempurlah, hadapi tantangan ini!”

2:19

ya ena vetti hantāra yaś caina manyate hatam
ubhau tau na vijānīto nāya hanti na hanyate

“Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan, yang menganggapnya terbunuh – kedua duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.”

2:20

na jāyate mriyate vā kadācin nāya bhūtvā bhavitā vā na bhūya
ajo nitya śāśvato’ya purāo na hanyate hanyamāne śarīre

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, atau terbunuh.”

Selanjutnya Gita Bab 2: sloka: 21 – 39