Gita bab 3

Bhagawad Gita Bab 2

Bab 2: sloka: 21 – 25

2:21

vedāvināśina nitya ya enam ajam avyayam
katha sa purua pārtha ka ghātayati hanti kam

“Seseorang yang mengetahui hal ini; mengenali dirinya sebagai yang tak-termusnahkan, tak-terlahirkan, dan tidak pernah punah, bagaimana pula ia dapat terbunuh, Arjuna? Dan, bagaimana pula ia dapat membunuh?”

2:22

vāsāsi jīrāni yathā vihāya navāni ghāti naro’parāi
tathā śarīrāi vihāya jīrāny anyāni sayāti navāni dehī

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseorang memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.”

2:23

naina chindanti śastrāi naina dahati pāvaka
na caina kledayanty āpo na śoayati māruta

“Senjata tidak dapat membunuh Jiwa yang menghidupi badan. Api tidak dapat membakar-Nya; Air tidak dapat membasahi-Nya; dan, Angin tidak dapat mengeringkan-Nya.”

2:24

acchedyo’yam adāhyo’yam akledyo’śoya eva ca
nitya sarva-gata sthāur acalo’ya sanātana

“(Jiwa) tidak dapat dilukai, dibakar, dibasahi ataupun dikeringkan. Ketahuilah bahwa Ia Abadi ada-nya; meliputi segalanya, tetap; tak-tergoyahkan, dan berada sejak awal mula.”

2:25

avyakto’yam acintyo’yam avikāryo’yam ucyate
tasmād eva viditvaina nānuśocitum arhasi

“Ia (Jiwa), disebut Tidak Berwujud, Tidak Nyata; Melampaui Pikiran dan Tak-Berubah. Dengan memahami hal ini, janganlah engkau bersedih-hati.”

Bab 2: sloka: 26 – 30

2:26

atha caina nitya-jāta nitya vā manyase mtam
tathāpi tva mahā-bāho naiva śocitum arhasi

“Seandainya kau anggap Ia (Jiwa) berulang kali lahir dan mati, terus-menerus, tanpa henti, tetap juga, Arjuna, layaknya kau tidak menangisi-Nya.”

2:27

jātasya hi dhruvo mtyur dhruva janma mtasya ca
tasmād aparihārye’rthe na tva śocitum arhasi

“Bagi yang lahir, kematian adalah keniscayaan; bagi yang mati, kelahiran adalah keniscayaan. Sebab itu, janganlah bersedih hati, menangisi sesuatu yang sudah pasti terjadi.”

2:28

avyaktādīni bhūtāni vyakta-madhyāni bhārata
avyakta-nidhanāny eva tatra kā paridevanā

“Wahai Arjuna, makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata – tidak berwujud; dan, berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Sebab itu, apa yang mesti disesali?”

2:29

āścarya-vat paśyati kaścid enam āścarya-vad vadati tathaiva cānya
āścarya-vac cainam anya śṛṇoti śrutvāpy ena veda na caiva kaścit

“Ada yang terpesona oleh keajaiban Jiwa sebagaimana dipahaminya; ada yang mengetahui keajaiban Jiwa; ada yang mendengar dan terheran-heran.
Kendati demikian, setelah mendengar tentangnya, ia tetap saja tidak memahaminya.”

2:30

dehī nityam avadhyo’ya dehe sarvasya bhārata
tasmāt sarvāi bhūtāni na tva śocitum arhasi

“Dia – Jiwa yang menghidupi badan sekian makhluk adalah Tak-Termusnahkan untuk selamanya. Sebab itu, Arjuna, kau tidak perlu berduka untuk siapapun juga.”

Bab 2: sloka: 31 – 35

2:31

sva-dharmam api cāvekya na vikampitum arhasi
dharmyād dhi yuddhāc chreyo’nyat katriyasya na vidyate

“(Dengan menyadari hakikat dirimu sebagai Jiwa;) dengan menyadari tugasmu, kewajibanmu sebagai seorang kesatria, janganlah engkau gentar menghadapi pertempuran, tantangan di depan mata. Sungguh, bagi seorang kesatria tiadalah sesuatu yang lebih mulia dari pertempuran demi penegakan kebajikan dan keadilan.”

2:32

yadcchayā copapanna svarga-dvāram apāvtam
sukhina katriyā pārtha labhante yuddham īdśam

“Betapa beruntungnya para kesatria yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur demi menegakkan Kebajikan dan Keadilan, baginya, Arjuna, seolah gerbang surga terbuka lebar!”

2:33

atha cet tvam ima dhārmya sagrāma na kariyasi
tata sva-dharma kīrti ca hitvā pāpam avāpsyasi

“Apabila kau tidak bertempur demi Kebajikan dan Keadilan; apabila kau menghindari kewajiban yang mulia ini, maka hanyalah celaan yang akan kau peroleh.”

2:34

akīrti cāpi bhūtāni kathayiyanti te’vyayām
sabhāvitasya cākīrtir maraād atiricyate

“Sepanjang masa semua orang akan mengenang perbuatanmu yang tercela. Dan, bagi seorang terhormat, cercaan seperti itu sungguh lebih berat dari kematian sekalipun.”

2:35

bhayād raād uparata masyante tvā mahā-rathā
yeā ca tva bahu-mato bhūtvā yāsyasi lāghavam

“Para Kesatria Agung akan menyimpulkan bahwa kau tidak bertempur karena takut. Mereka yang selama ini menghormatimu, akan berbalik mencelamu, meremehkanmu.”

Bab 2: sloka: 36 – 40

2:36

avācya-vādāś ca bahūn vadiyanti tavāhitā
nindantas tava sāmarthya tato dukhatara nu kim

“Apalagi mereka yang berlawanan denganmu. Mereka akan mencelamu, dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Mereka akan menertawakan kelemahanmu. Penderitaan apa yang lebih menyakitkan?”

2:37

hato vā prāpsyasi svarga jitvā vā bhokyase mahīm
tasmād uttiṣṭha kaunteya yuddhāya kta-niścaya

“Jika terbunuh dalam perang demi kebajikan ini, kau akan mendapatkan tempat yang layak di surga, di alam setelah kematian. Dan, apabila kau menang, kau akan menikmati kekuasaan dunia. Sebab itu, Arjuna, bangkitlah, tetapkanlah hatimu untuk berperang demi kebenaran!”

2:38

sukha-dukhe same ktvā lābhālābhau jayājayau
tato yuddhāya yujyasva naiva pāpam avāpsyasi

“Dengan menganggap sama suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan,kemenangan dan kekalahan, bertempurlah! Demikian kau akan bebas dari segala dosa-kekhilafan yang dapat terjadi dalam menjalankan tugasmu.”

2:39

eā te’bhihitā sākhye buddhir yoge tv imā śṛṇu
buddhyā yukto yayā pārtha karma-bandha prahāsyasi

“Apa yang telah kau dengarkan ini adalah kebijaksanaan, ajaran luhur dari sudut pandang khya, yaitu Buddhi Yoga, pandangan berdasarkan pertimbangan dan analisis yang matang. Sekarang, dengarkan ajaran dari sudut pandang Karma Yoga. Jika kau berketetapan hati untuk menerima dan menjalaninya, maka kau dapat berkarya secara bebas tanpa kekhawatiran; dan, bebas pula dari rasa takut akan dosa-kekhilafan. Demikian, tiada lagi akibat karma atau perbuatan, yang dapat membelenggumu.”

2:40

nehābhikrama-nāśo’sti pratyavāyo na vidyate
sv-alpam apy asya dharmasya trāyate mahato bhayāt

“Berkarya demikian, tiada upaya yang tersia-sia; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir, dan cemas.”

Selanjutnya Gita Bab 2: sloka: 41 – 60