Gita bab 3

Bhagawad Gita Bab 2

Bab 2: sloka: 61 – 65

2:61

tāni sarvāi sayamya yukta āsīta mat-para
vaśe hi yasyendriyāi tasya prajñā pratiṣṭhitā

“Setelah mengendalikan seluruh indra, hendaknya seorang bijak yang ingin menemukan jati dirinya, memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, demikian kesadarannya tak akan tergoyahkan.”

2:62

dhyāyato viayān pusa sagas teūpajāyate
sagāt sañjāyate kāma kāmāt krodho’bhijāyate

“Dalam diri seseorang yang senantiasa memikirkan objek-objek pemikat indra – timbullah ketertarikan dan keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan dan keterikatan, timbul keinginan untuk memilikinya. Dan, dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).”

2:63

krodhād bhavati samoha samohāt smti-vibhrama
smti-bhraśād buddhi-nāśo buddhi-nāśāt praaśyati

“Amarah membingungkan, pandangan dan pikiran seseorang menjadi berkabut; dalam keadaan bingung, terlupakanlah segala nilai-nilai luhur, dan lenyap pula kemampuan untuk memilah antara yang tepat dan yang tidak tepat, sesuatu yang mulia dan sesuatu yang sekadar menyenangkan. Demikian, seseorang tersesatkan oleh ulahnya sendiri.”

2:64

rāga-dvea-vimuktais tu viayān indriyaiś caran
ātma-vaśyair vidheyātmā prasādam adhigacchati

“Seseorang yang bebas dari ketertarikan dan ketaktertarikan, suka dan tak-suka; kendati berada di tengah objek-objek duniawi penggoda indra, tetaplah dapat mengendalikan dirinya. Demikian, dengan pengendalian diri, ia meraih ketenangan, ketenteraman batin.”

2:65

prasāde sarva-dukhānā hānir asyopajāyate
prasanna-cetaso hy āśu buddhi paryavatiṣṭhate

“Dalam keadaan tenang, tenteram – berakhirlah segala duka, segala derita. Ketika gugusan pikiran dan perasaan tenang, buddhi atau inteligensia berkembang, maka tercapailah kesempurnaan dankebahagiaan dalam hidup berkesadaran.”

Bab 2: sloka: 66 – 70

2:66

nāsti buddhir ayuktasya na cāyuktasya bhāvanā
na cābhāvayata śāntir aśāntasya kuta sukham

“Tiada buddhi, tiada inteligensia dalam diri yang tak terkendali, tiada pula keseimbangan diri serta kesadaran; dan tanpa keseimbangan, tanpa kesadaran, tiada kedamaian, ketenangan, ketenteraman. Lalu, bagaimana pula meraih kebahagiaan sejati tanpa kedamaian?”

2:67

indriyāā hi caratā yan mano’nuvidhīyate
tad asya harati prajñā vāyur nāvam ivāmbhasi

“Ketika gugusan pikiran serta perasaan terbawa oleh indra, dan berada di bawah kendalinya; maka sirnalah akal-sehat, segala kebijaksanaan serta kesadaran. Persis seperti perahu yang hanyut terbawa angin kencang.”

2:68

tasmād yasya mahā-bāho nighītāni sarvaśa
indriyāīndriyārthebhyas tasya prajñā pratiṣṭhitā

“Sebab itu, Arjuna, seseorang yang telah berhasil mengendalikan indranya dan menarik mereka dari objek-objek duniawi yang dapat memikat dan mengikatnya – sudah teguh adanya, sudah tak tergoyahkan lagi.”

2:69

yā niśā sarva-bhūtānā tasyā jāgarti sayamī
yasyā jāgrati bhūtāni sā niśā paśyato mune

“Malam bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari jati-dirinya, adalah saat para bijak yang sadar akan jati-dirinya, berada dalam keadaan jaga. Dan siang bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.”

2:70

āpūryamāam acala-pratiṣṭha samudram āpa praviśanti yadvat
tadvat kāmā ya praviśanti sarve sa śāntim āpnoti na kāma-kāmī

“Sebagaimana laut tidak terpengaruh oleh air sungai dan hujan yang memasukinya – ia tetap tenang; pun demikian dengan seorang bijak, ia tidak terganggu oleh keinginan-keinginan yang muncul di dalam dirinya.Maka, ia mencapai kedamaian, ketenangan sejati. Namun, tidaklah demikian keadaan seseorang yang tidak bijak, dan terpengaruh oleh keinginan-keinginannya.”

Bab 2: sloka: 71 – 72

2:71

vihāya kāmān ya sarvān pumāś carati nispha
nirmamo nirahakāra sa śāntim adhigacchati

“Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, atau mengharapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan ke-‘aku’-an ilusif – meraih kedamaian sejati.”

2:72

eā brāhmī sthiti pārtha nainā prāpya vimuhyati
sthitvāsyām anta-kāle’pi brahma-nirvāam cchati

“Wahai Arjuna, inilah tingkat kemuliaan tertinggi, inilah Kesadaran Brahman yang suci; setelah berada dalam kesadaran ini, seseorang tidak pernah bingung lagi. Tetap berada dalam kesadaran ini saat ajal tiba – ia mencapai Kebahagiaan Sejati, Kasunyatan Abadi atau Brahmanirvāṇa.”

Demikian berakhirlah Percakapan Kedua | Bhagawad Gita Bab 2

Sumber; https://bhagavadgita.or.id