Bhagawad Gita Bab. 4

25 / 100

Bhagavad Gita: Percakapan Keempat

Pengetahuan Sejati:
Menemukan Jati Diri Hakiki

4:1

śrī-bhagavān uvāca ima vivasvate yoga proktavān aham avyayam,

Advertisements

vivasvān manave prāha manur ikvākave’bravīt

Śrī Bhagavān (Kṛṣṇa Hyang Maha Berkah) bersabda:

“(Ajaran tentang) Yoga ini pernah Ku-ungkapkan kepada Vivasvān, Penguasa Matahari; Vivasvān menyampaikan kepada Manu, leluhur manusia di bumi; dan Manu mengajarkannya kepada (Raja) Ikṣvāku.”

4:2

eva paramparā-prāptam ima rājarayo vidu,
sa kāleneha mahatā yogo naṣṭa parantapa

“Demikian, disampaikan secara turun-temurun, para Rājari – para Penguasa Berkesadaran, pun para Bijak yang membantu dalam ketatanegaraan, mengetahui dan melakoni (ajaran) Yoga ini. Namun, seiring waktu cukup panjang yang telah berlalu, ajaran ini telah lenyap, hilang, tidak diketahui lagi.”

4:3

sa evāya mayā te’dya yoga prokta purātana,
bhakto’si me sakhā ceti rahasya hy etad uttamam

“(Ajaran) Yoga kuno yang dirahasiakan ini pula yang telah Ku-sampaikan kepadamu saat ini, karena engkau adalah seorang sahabat berjiwa panembah.”

4:4

arjuna uvāca
apara bhavato janma para janma vivasvata,
katham etad vijānīyā tvam ādau proktavān iti

Arjuna bertanya:

”Kelahiran Vivasvān yang Engkau sebut adalah jauh sebelum kelahiran-Mu sendiri. Bagaimana Engkau dapat mengajarkan kepadanya, bagaimana aku bisa memahami hal ini?”

4:5

śrī-bhagavān uvāca
bahūni me vyatītāni janmāni tava cārjuna,
tāny aha veda sarvāi na tva vettha parantapa

Śrī Bhagavān (Kṛṣṇa Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Arjuna, kau dan Aku telah melewati banyak masa kehidupan. Aku mengingat semuanya – sementara kau tidak mengingatnya, Arjuna.”

4:6

ajo’pi sann avyayātmā bhūtānām īśvaro’pi san,
prakti svām adhiṣṭhāya sabhavāmy ātma-māyayā

“Aku adalah Jiwa Hyang Kekal, Īśvara, Penguasa Tunggal makhluk-makhluk seantero alam. Sesungguhnya Aku Tak (perlu) Terlahirkan, namun atas kehendak-Ku dan dengan kekuatan Māyā-Ku sendiri, kekuatan yang menyebabkan Hyang Tunggal tampak Banyak, Aku mewujud!”

4:7

yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata,
abhyutthānam adharmasya tadātmāna sjāmy aham

“Wahai Arjuna, ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.”

4:8

paritrāāya sādhūnā vināśāya ca duktām,
dharma-sasthāpanārthāya sabhavāmi yuge yuge

“Guna melindungi para bijak; membinasakan mereka yang berbuat batil; dan, meneguhkan kembali dharma, kebajikan – Aku datang menjelma dari masa ke masa.”

4:9

janma karma ca me divyam eva yo vetti tattvata,
tyaktvā deha punar janma naiti mām eti so’rjuna

“Arjuna, kelahiran serta segala kegiatan-Ku adalah bersifat ilahi, mulia. Ia yang menyadari hakikat ini tidak lahir kembali setelah meninggalkan jasadnya. Ia datang kepada-Ku, menyatu dengan-Ku.”

4:10

vīta-rāga-bhaya-krodhā man-mayā mām upāśritā,
bahavo jñāna-tapasā pūtā mad-bhāvam āgatā

“Dengan sepenuhnya membebaskan diri dari keterikatan, rasa takut dan amarah; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, sepenuhnya berlindung pada-Ku; serta menyucikan diri dengan tapa atau laku spiritual untuk mengetahui Hakikat-Diri; banyak yang telah mencapai kesadaran-Ku dan manunggal dengan-Ku.”

4:11

ye yathā mā prapadyante tās tathaiva bhajāmy aham,
mama vartmānuvartante manu pārtha sarvaśa

“Arjuna, dengan cara apa pun seseorang mendekati-Ku, Aku menerimanya; karena, sesungguhnya setiap cara, setiap jalan yang ditempuh manusia adalah jalan-Ku, adalah jalan yang menuju-Ku.”

4:12

kanta karmaā siddhi yajanta iha devatā,
kipra hi mānue loke siddhir bhavati karma-jā

“Makhluk-makhluk sedunia, yang menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka, umumnya memuja para dewa – kekuatan-kekuatan alam; dengan cara itu, mereka segera memperoleh apa yang mereka inginkan.”

4:13

cātur-varya mayā sṛṣṭa gua-karma-vibhāgaśa,
tasya kartāram api mā viddhy akartāram avyayam

“Pembagian tatanan masyarakat dalam empat bagian (cendekiawan, kesatria, pengusaha, dan pekerja) berdasarkan sifat dan peran mereka masing-masing adalah atas kehendak-Ku pula. Kendati demikian Aku Tak Terbagi, Aku Tetap Kekal Abadi, dan tidak pula terlibat dalam suatu tindakan.”

4:14

na mā karmāi limpanti na me karma-phale sp
iti mā yo’bhijānāti karmabhir na sa badhyate

Karma atau tindakan apa pun tidak memengaruhi-Ku, mengikat-Ku, karena Aku tidak terikat pada hasil karma. Seseorang yang memahami hakikat-Ku ini terbebaskan pula dari segala keterikatan pada karma dan hasilnya.”

4:15

eva jñātvā kta karma pūrvair api mumukubhi
kuru karmaiva tasmāt tva pūrvai pūrvatara ktam

“Kendati demikian, setelah mengetahui Hakikat Jiwa, yang sesungguhnya tidak terlibat dalam suatu karya; para bijak sejak dulu, tetaplah berkarya semata untuk meraih kebebasan sejati atau moka. Sebab itu, hendaknya engkau pun mencontohi mereka dan berkarya sebagaimana mereka berkarya.”

4:16

ki karma kim akarmeti kavayo’py atra mohitā
tat te karma pravakyāmi yaj jñātvā mokyase’śubhāt

“Apa hakikat karma atau perbuatan, dan apa pula hakikat akarma atau tidak berbuat. Hal ini telah membingungkan banyak orang, sekalipun sudah berpengetahuan. Sebab itu, akan Ku-jelaskan padamu tentang hakikat karma. Pengetahuan hakiki ini dapat membebaskan dirimu dari segala akibat tidak baik, tidak mulia, dari perbuatanmu.”

4:17

karmao hy api boddhavya boddhavya ca vikarmaa
akarmaaś ca boddhavya gahanā karmao gati

“Hendaknya seseorang mengetahui kebenaran tentang karma, perbuatan; tentang akarma, tidak berbuat, dan, tentang vikarma, perbuatan jahat yang menyengsarakan, dan mesti dihindari. Memang sungguh sulit memahami kinerja karma, rahasia karma.”

4:18

karmay akarma ya paśyed akarmai ca karma ya
sa buddhimān manuyeu sa yukta ktsna-karma-kt

“Ia yang melihat akarma dalam karma, tidak berbuat saat berbuat; dankarma dalam akarma, berbuat saat tidak berbuat – adalah seorang bijak, seorang Yogī, yang telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga. Ia telah ber-karma, berkarya secara sempurna.”

4:19

yasya sarve samārambhā kāma-sakalpa-varjitā
jñānāgni-dagdha-karmāa tam āhu paṇḍita budhā

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para paṇḍit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.”

4:20

tyaktvā karma-phalāsaga nitya-tpto nirāśraya
karmay abhipravtto’pi naiva kiñcit karoti sa

“Seseorang yang tidak terikat dengan hasil perbuatannya, tidak perlu bergantung pada dunia benda. Ia senantiasa dalam keadaan puas batiniah. Kendati tetap berkarya, sesungguhnya ia tidak berbuat apa-apa.”

4:21

nirāśīr yata-cittātmā tyakta-sarva-parigraha
śārīra kevala karma kurvan nāpnoti kilbiam

“Seseorang yang telah menguasai dirinya, pikirannya; dan, tidak lagi memiliki rasa kepemilikan terhadap benda-benda duniawi, walau berbuat sesuatu yang bersifat fisik murni, tetaplah bebas dari konsekuensi segala perbuatannya.”

4:22

yadcchā-lābha-santuṣṭo dvandvātīto vimatsara
sama siddhāv asiddhau ca ktvāpi na nibadhyate

“Ia yang puas dengan apa yang diperolehnya; bebas dari segala pertentangan, yang tercipta oleh dualitas; bebas dari rasa iri; dan, seimbang dalam keberhasilan maupun kegagalan – sesungguhnya telah bebas dari segala keterikatan walau ia tetap berkarya.”

4:23

gata-sagasya muktasya jñānāvasthita-cetasa
yajñāyācarata karma samagra pravilīyate

“Ia yang bebas dari keterikatan, keakuan serta rasa kepemilikan (punya-’ku’, keluarga-’ku’, dan sebagainya); kesadarannya terpusatkan pada Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri sebagai Jiwa; dan berkarya dengan semangat persembahan – sesungguhnya telah terbebaskan dari segala konsekuensi perbuatannya.”

4:24

brahmārpaa brahma havir brahmāgnau brahmaā hutam
brahmaiva tena gantavya brahma-karma-samādhinā

“Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.”

4:25

daivam evāpare yajña yogina paryupāsate
brahmāgnāv apare yajña yajñenaivopajuhvati

“Sebagian Yogī menghaturkan persembahan kepada para dewa, atau kekuatan-kekuatan alam. Sebagian lagi menghaturkan ‘diri’-nya sebagai persembahan kepada Brahman.”

4:26

śrotrādīnīndriyāy anye sayamāgniu juhvati
śabdādīn viayān anya indriyāgniu juhvati

“Sebagian mempersembahkan indra pendengaran dan sebagainya ke dalam Api Suci Pengendalian Diri; sebagian lagi mempersembahkan suara dan pemicu-pemicu lainnya ke dalam Api Indra yang membara.”

4:27

sarvāīndriya-karmāi prāa-karmāi cāpare
ātma-sayama-yogāgnau juhvati jñāna-dīpite

“Sebagian lagi mempersembahkan seluruh kegiatan indra; dan bahkan seluruh tindakan Prāa, atau hidupnya ke dalam api Yoga Pengendalian Diri, yang dinyalakan oleh Pengetahuan Sejati.”

4:28

dravya-yajñās tapo-yajñā yoga-yajñās tathāpare
svādhyāya-jñāna-yajñāś ca yataya saśita-vratā

“Sebagian orang menyembah dengan cara menghaturkan hartanya;sebagian dengan bertapa; sebagian dengan melakoni Yoga; sebagian dengan mengikuti berbagai laku spiritual secara ketat; dan sebagian lagi dengan mempersembahkan pengetahuan yang diperolehnya lewat pendalaman kitab-kitab suci pada Api Suci Kebijaksanaan Sejati.”

4:29

apāne juhvati prāa prāe’pāna tathāpare
prāāpāna-gatī ruddhvā prāāyāma-parāyaā

“Ada pula yang menghaturkan persembahan dengan cara pengaturanprāa atau energi kehidupan lewat napas – napas yang masuk dan napas yang keluar. Dengan cara itu, mereka mengatur hidup mereka (dan membuatnya layak untuk dipersembahkan).”

4:30

apare niyatāhārā prāān prāeu juhvati
sarve’py ete yajña-vido yajña-kapita-kalmaā

“Ada pula yang mengendalikan makanannya, dan mempersembahkanprāa – hidup mereka – untuk melestarikan kehidupan, menunjang kehidupan umum. Sungguh mereka semua yang sedang menyembah, menghaturkan persembahan dengan berbagai cara itu, memahami arti panembahan, dan oleh karenanya terbebaskan dari segala dosa-kekhilafan.”

4:31

yajña-śiṣṭāmta-bhujo yānti brahma sanātanam
nāya loko’sty ayajñasya kuto’nya kuru-sattama

“Wahai Arjuna, ia yang menikmati apa saja yang tersisa dari persembahannya, sesungguhnya menikmati Amta – kehidupan langgeng, dan mencapai Brahman Hyang Kekal Abadi. Sebaliknya bagi mereka yang tidak melakukan persembahan, tiada suatu (kenikmatan) apa pun di dunia ini, apalagi di alam lain (setelah menyelesaikan masa kehidupan di alam benda ini).”

4:32

eva bahu-vidhā yajñā vitatā brahmao mukhe
karma-jān viddhi tān sarvān eva jñātvā vimokyase

“Demikian, banyak sekali cara panembahan yang dijelaskan oleh Brahmā, Sang Pencipta (lewat Veda). Ketahuilah bila semuanya itu menyangkut perbuatan nyata (dengan semangat panembahan). Dengan pemahaman dan penghayatan akan hal ini, niscaya kau terbebaskan (dari segala duka dan dosa-kekhilafan).”

4:33

śreyān dravya-mayād yajñāj jñāna-yajña parantapa
sarva karmākhila pārtha jñāne parisamāpyate

“Wahai Arjuna, sesungguhnya persembahan berupa Pengetahuan Sejati –manembah dengan cara berbagi Pengetahuan Sejati adalah lebih mulia daripada persembahan berupa harta-benda, materi. Akhir dari segala perbuatan adalah Pengetahuan Sejati.”

4:34

tad viddhi praipātena paripraśnena sevayā
upadekyanti te jñāna jñāninas tattva-darśina

“Ketahuilah hal ini dengan mendatangi mereka yang mengetahui kebenaran; bertanyalah dengan penuh ketulusan hati; layani mereka dengan penuh keikhlasan; dan mereka akan mengajarkan, mengungkapkan kebenaran itu padamu.”

4:35

yaj jñātvā na punar moham eva yāsyasi pāṇḍava
yena bhūtāny aśeea drakyasy ātmany atho mayi

“Wahai Arjuna, setelah meraih Pengetahuan Sejati dan tercerahkan, kau tak akan bingung lagi. Kau akan merasakan kesatuan, kemanunggalan dengan semua makhluk, dan selanjutnya melihat semua di dalam diri-Ku.”

4:36

api ced asi pāpebhya sarvebhya pāpa-kt-tama
sarva jñāna-plavenaiva vjina santariyasi

“Walau kau seorang yang paling berdosa, paling khilaf di antara semua yang berdosa dan khilaf; kau dapat melampaui (lautan) segala dosa-kekhilafan dengan menggunakan perahu Pengetahuan Sejati.”

4:37

yathaidhāsi samiddho’gnir bhasma-sāt kurute’rjuna
jñānāgni sarva-karmāi bhasma-sāt kurute tathā

“Sebagaimana api membara membakar habis kayu menjadi abu; pun demikian Arjuna, api Pengetahuan Sejati, membakar habis (akibat dari) segala karma, segala perbuatan.”

4:38

na hi jñānena sadśa pavitram iha vidyate
tat svaya yoga-sasiddha kālenātmani vindati

“Di alam benda, di dunia ini, tiada penyuci lain yang dapat menandingi (api) Pengetahuan Sejati. Seseorang yang mencapai kesempurnaan dalam (KarmaYoga, menemukan Sumber Pengetahuan Sejati itu di dalam dirinya sendiri.”

4:39

śraddhāvāl labhate jñāna tat-para sayatendriya
jñāna labdhvā parā śāntim acireādhigacchati

“Ia yang teguh dalam keyakinannya, meraih Pengetahuan Sejati; dengan Pengetahuan Sejati, ia mengendalikan indranya. Dan, dengan Pengetahuan Sejati pula ia mencapai kedamaian abadi.”

4:40

ajñaś cāśraddadhānaś ca saśayātmā vinaśyati
nāya loko’sti na paro na sukha saśayātmana

“(Sebaliknya) mereka yang bodoh, tidak berpengetahuan; tidak pula berkeyakinan; dan senantiasa ragu – niscaya akan binasa. Baginya tiada kebahagiaan di dunia ini, maupun di alam setelah kematian.

4:41

yoga-sanyasta-karmāa jñāna-sañchinna-saśayam
ātmavanta na karmāi nibadhnanti dhanañjaya

“Wahai Arjuna, (ketahuilah) tiada karma, tiada perbuatan yang dapat membelenggu seseorang yang senantiasa berkarya dalam yoga, tanpa pamrih, dan dengan semangat melayani; keraguannya teratasi sudah oleh Pengetahuan Sejati; dan dirinya terkendali.”

4:42

tasmād ajñāna-sambhūta ht-stha jñānāsinātmana
chittvaina saśaya yogam ātiṣṭhottiṣṭha bhārata

“Sebab itu, wahai Arjuna. gunakanlah pedang Pengetahuan Sejati untuk menghabisi keraguan yang berasal dari dalam dirimu sendiri, dari ketidaktahuan tentang hakikat dirimu. Bangkitlah dalam Yoga, wahai Arjuna!”

Demikian berakhirlah Percakapan Keempat.

← Sebelumnya Selanjutnya →

Sumber;https://bhagavadgita.or.id/percakapan-3/

Advertisements