Bhagawad Gita Bab 8

Gita bab 5

Percakapan Kedelapan – Bhagawad Gita bab 8

Gita bab 8: Siapakah sesungguhnya Brahman, Hyang Maha Tinggi atau Jiwa Agung itu? Cara Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang dapat mencapai tempat tinggal Jiwa Agung Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan cara ingat kepada Tuhan dalam Bhakti semasa hidupnya.

Gita Bab 8: sloka: 1 – 5

8:1

Arjuna uvaca kim tad brahma kim adhyatmam kim karma purusottama.

adhibhutam ca kim proktam adhidaivam kim ucyate.

Arjuna bertanya:

“Krisna, apakah sesungguhnya Brahman atau Hyang Maha Tinggi Jiwa Agung itu? Apa (hubungan-Nya dengan) Adhyatma? Apa makna karmayang sebenarnya? (Mohon penjelasan yang lebih rinci tentang) apa arti Adhibhuta atau alam benda; dan, Adhidaiva – yang konon adalah kesadaran mulia?”

8:2

adhiyajnaḥ katham ko’tra dehe’smin madhusudana
prayana kale ca katham jneyo’si niyatatmabhih

“Krisna, apa pula yang disebut Adhiyajna, dan dengan cara apa, bagaimana Ia bisa bersemayam di dalam diri kita? Bagaimana pula mereka yang telah mengendalikan pikiran  serta perasaannya mencapai-Mu – Jiwa Agung – saat kematian?”

8:3

Shri-bhagavan uvaca aksaram brahma paramam svabhavo’dhyatmam ucyate

bhuta-bhavodbhava-karo visargaḥ karma-samjnitaḥ

Shri Bhagaaān (Krisna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Hyang Maha Tinggi dan Tak Termusnahkan – itulah Brahman – Sang Jiwa Agung; Jiwa-Individu atau Jiwatma adalah Adhyatma; dan segala kegiatan yang menyebabkan kelahiran atau keberadaan makhluk-makhluk seantero jagad-raya – itulah Karma.”

8:4

adhibhūta karo bhāva puruaś cādhidaivatam
adhiyajño’ham evātra dehe deha-bh vara

“Arjuna, ketahuilah segala sesuatu yang termusnahkan sebagai Adhibhūta(kebendaan); sebagai  PuruaAdhidaiva (Kekuatan atau Cahaya Ilahi), Akulah yang menghidupi alam benda dan kebendaan; dan sebagai Saksi Tunggal akan segala sesuatu,
Aku pula yang hadir dalam diri-sanubari setiap makhluk sebagaiAdhiyajña.”

8:5

anta-kāle ca mām eva smaran muktvā kalevaram
ya prayāti sa mad-bhāva yāti nāsty atra saśaya

“Saat ajal tiba, seseorang yang meninggalkan badan dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku, niscaya mencapai-Ku. Tiada keraguan dalam hal itu.”

Gita Bab 8: sloka: 6 – 10

8:6

ya ya vāpi smaran bhāva tyajaty ante kalevaram
ta tam evaiti kaunteya sadā tad-bhāva-bhāvita

“Apa pun yang terpikirkan saat ajal tiba, saat seseorang meninggalkan badannya, wahai Arjuna, itu pula yang dicapainya setelah meninggalkan badan. Sebab, pikiran terakhir adalah sama seperti apa yang terpikir olehnya secara terus-menerus sepanjang hidup.”

8:7

tasmāt sarveu kāleu mām anusmara yudhya ca
mayy arpita-mano-buddhir mām evaiyasy asaśaya

“Sebab itu, Arjuna, pusatkan kesadaranmu pada-Ku dan hadapilah peperangan ini – tantangan hidup ini – dengan seluruh pikiran dan kesadaran, serta inteligensiamu terpusatkan pada-Ku, maka niscayalah kau mencapai Ku!”

8:8

abhyāsa-yoga-yuktena cetasā nānya-gāminā
parama purua divya yāti pārthānucintayan

“Arjuna, seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi secara teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.”

8:9

kavi purāam anuśāsitāram aor aīyāsam anusmared ya
sarvasya dhātāram acintya-rūpa āditya-vara tamasa parastāt

“Ia yang senantiasa memusatkan kesadarannya pada Hyang Maha Bijak, Hyang Kekal Abadi, Penguasa Alam Raya; lebih halus dan dalam dari yang terhalus dan terdalam; Sang Pemelihara Alam Semesta, Hyang wujud-Nya tak dapat dipahami oleh manusia; cahaya-Nya melebihi matahari, dan tak tersentuh oleh gelap ketidaktahuan;”

8:10

prayāakāle manasā’calena bhaktyā yukto yoga-balena caiva
bhruvor madhye prāam āveśya samyak sa ta para puruam upaiti divyam

“Saat tibanya waktu untuk meninggalkan raga, jika seorang yogīberpikiran tenang, terkendali, dan berjiwa penuh devosi – memusatkanprāa atau aliran kehidupannya di tengah kedua alis-mata; maka, niscaya ia mencapai Sang Purua – Gugusan Jiwa yang Suci.”

Gita Bab 8: sloka: 11 – 14

8:11

yad akara veda-vido vadanti viśanti yad yatayo vīta-rāgā
yad icchanto brahmacārya caranti tat te pada sagrahea pravakye

“(Sekarang) dengarlah secara singkat tentang Tujuan Tertinggi (Tuhan, wujud Kebenaran Sejati, Kesadaran Murni, dan Kebahagiaan Kekal Abadi) – mereka yang memahami Veda menyebut-Nya ‘Hyang Tak Termusnahkan’, Hyang dicapai para petapa yang telah bebas dari hawa-nafsu; dan, menjadi Tujuan laku hidup Brahmacārya.”

8:12

sarva-dvārāi sayamya mano hdi nirudhya ca
mūrdhny ādhāyātmana prāam āsthito yoga-dhāraām

“Dengan mengendalikan seluruh indranya; gugusan pikiran serta perasaan (mind) terpusatkan di hati; aliran kehidupan (prāa) di kepala (di tengah kedua alis mata); dan, berada sepenuhnya dalam KesadaranYoga…”

8:13

om ity ekākara brahma vyāharan mām anusmaran
ya prayāti tyajan deha sa yāti paramā gatim

“Arjuna, meninggalkan badan dengan cara itu (sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya), sambil mengulangi aksara Tunggal O, Sabda Ilahi Hyang Tak-Terpunahkan, dengan segenap kesadarannya terpusatkan pada-Ku, niscayalah Hyang Tertinggi tercapai dengan mudah.”

8:14

ananya-cetā satata yo mā smarati nityaśa
tasyāha sulabha pārtha nitya-yuktasya yogīna

“Arjuna, seseorang yang senantiasa mengenang-Ku dengan segenap gugusan pikiran serta perasaan yang tidak bercabang – sesungguhnya sudah manunggal dengan-Ku. Seorang Yogī seperti itu mencapai-Ku dengan mudah.”

Gita Bab 8: sloka: 15 – 17

8:15

mām upetya punar janma dukhālayam aśāśvatam
nāpnuvanti mahātmāna sasiddhi paramā gatā

“Jiwa-Jiwa besar nan mulia (Mahātmā) yang telah mencapai kesempurnaan tertinggi seperti itu, telah manunggal dengan-Ku; tidak lagi mengalami kelahiran ulang di alam benda, yang penuh duka dan bersifat sementara ini.”

8:16

ā-brahma-bhuvanāl lokā punar āvartino’rjuna
mām upetya tu kaunteya punar janma na vidyate

“Arjuna, dari Alam Penciptaan Sang Pencipta Brahmā atau Brahmalokahingga alam-alam lain di bawahnya – semua mengalami kelahiran ulang. Adalah seseorang yang telah mencapai-Ku saja yang tidak mengalami kelahiran ulang.”

8:17

sahasra-yuga-paryantam ahar yad brahmao vidu
rātri yuga-sahasrāntā te’ho-rātravido janā

“Para Yogī yang sadar memahami bahwa sehari ‘kehidupan’ Brahmā adalah sama dengan 1.000 Mahā Yuga – Zaman Agung. Dan satu malam Brahmā pun demikian, sepanjang 1.000 Mahā Yuga – Zaman Agung – hanyalah mereka yang mengetahui kebenaran tentang waktu.”

Selanjutnya Gita Bab 8 aloka: 18 – 28