Weda (Veda) adalah kitab suci agama Hindu, Weda bukanlah sebuah kitab suci yang menakutkan, atau sebuah kitab suci yang akan menyebabkan hal-hal yang buruk bagi pembacanya. Weda adalah sebuah buku tentang pengetahuan teologis, Filosofis, ritual dan banyak lagi lainnya. Yajurweda sendiri telah mengatakan bahwa ajaran weda harus disampaikan dan bukannya disimpan atau dimonopoli kebenarannya oleh hanya satu golongan.
“Yathemam vacam kalyanim avadani janebyah
Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya
Ca svaya caranaya ca” -Yajurveda XXVI.2
Artinya:
Hendaknya disampaikan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, cendikiawan-rohaniawan, raja-pemerintah-masyarakat, para pedagang-petani-nelayan-buruh, kepada orang-orangku dan kepada orang asing sekalipun.
Veda (Bhs ID = Weda) berasal dari urat kata kerja Vid yang berarti “mengetahui” dan Veda yang berarti “pengetahuan”.
Dalam pengertian semantik, Weda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, kebijakan tertinggi atau pengetahuan spritual sejati tentang kebenaran abadi. Sebagai sebuah sumber pengetahuan, Veda telah eksis jauh sebelum dimulainya hitungan tahun masehi.
Sastra veda menggunakan bahasa sansekerta. Pada awalnya nama bahasa “Sansekerta” ini dipopulerkan oleh Maharsi Panini, yang selain menggunakan nama baahsa Sansekerta, juga menyebut bahasa Weda dengan “daivivak”, yang artinya bahasa dewata.
Beberapa tahun berikutnya, Maharsi Patanjali menulis buku kritik terhadap karya Maharsi Panini yang makin menyempurnakan bahasa sansekerta. Seorang penulis lainnya adalah Katyayana, yang di Indonesia dikenal dengan nama Rsi Wararuci dengan salah satu kitabnya yang telah diterjemahkan di Indonesia yaitu Saracamuccaya.
Setelah melalui perjalanan yang demikian panjang, bahasa Sansekerta kemudian mengalami beberapa perubahan mendasar, dimana telah timbul sub-sub bahasa Sansekerta.
Ada tiga jenis bahasa Sansekerta yang dikenal saat ini.
Di Indonesia dan Asia Tenggara, berkembang bahasa Sansekerta Kepulauan (Archipelago Sanskrit) yang banyak terpengaruh oleh bahasa Melayu.
Penelitian terhadap bahasa Sansekerta sebenarnya telah dilakukan lama sebelumnya. Pada awal abad XVII di Eropa telah dimulai usaha-usaha untuk mempelajari Bahasa Sansekerta, dengan motif Zending ajaran Kristen dan Katolik. Beberapa diantara mereka adalah Dr. Max Muller, Weber, Sir William Jones, HT. Colebrooke dan banyak lagi yang lain. Yang memprihatinkan, tidak ada satupun diantara penelitian tersebut yang ditujukan untuk mengembangkan Hindu.
Dalam seluruh sastra Hindu, Weda menempati posisi yang tertinggi. Diyakini demikian karena hanya Weda yang diwahyukan sejak mulai adanya pengertian waktu. Dari weda kemudian mengalir kepada buku-buku yang lain. Terhadap pengertian ini, Swami Dayananda Saraswati mengatakan, Rgveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharwaveda adalah sabda dari Tuhan.
Acuan dari pemikiran ini adalah
Tasmad Yajnat sarvahuta
Rcah samani jajnire
Chandami jajnire tasmad
Yajus tasmad ajayata. -Yajurveda XXX.7
Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadanya umat manusia mempersembahkan berbagai yadnya dan daripadanya muncul Rgveda dan Sama veda. Daripadanya muncul yajurveda dan Samaveda.
Dalam proses pewahyuan Weda tersebut, ada beberapa cara yang dikenal, diantaranya adalah
Shruti (“apa yang didengar”) – catatan wahyu tentang hakikat eksistensi sebagaimana para penulis Weda “mendengar” dan mencatatkannya dalam kitab tersebut.
Smrti (“apa yang diingat”) – cerita para pahlawan agung dari masa lalu dan bagaimana mereka berhasil – atau gagal – menjalankan tugas/kewajiban sesuai kehendak Takdir Abadi.
Naskah yang menjabarkan Shruti termaktub dalam Empat (kitab) Weda (Catur Weda):
Masing-masing kitab di atas selanjutnya dipisahkan dalam beberapa jenis:
Naskah yang termasuk Smrti adalah:
Weda memiliki beberapa nama lain, diantaranya adalah;
Weda memiliki beberapa karakteristik yaitu;
Perlu ditegaskan disini bahwa weda pada awalnya diterima secara lisan (tanpa menggunakan buku dalam proses pewarisan), dan diteruskan juga secara lisan. Proses penyusunan kitab suci weda dalam bahasa literer, dimulai oleh Krsnadvapayana atau dikenal juga dengan nama Maharsi Vyasa. Beliau dibantu oleh 4 orang siswanya yaitu Pulaha atau Paila yang diyakini menyusun Rgveda, Vaisampayana yang menyusun Yajurveda, Jaimini yang menyusun Samaveda dan Sumantu yang menyusun Atharvaveda.
Sedangkan rsi-rsi yang dihubungkan dengan proses pewahyuan weda pada awalnya dikenal dengan kelompok Saptarsi. Adapun saptarsi dan gotra sapta rsi yang paling banyak disebut dalam proses ini adalah
Weda yang dituliskan dalam bahasa sansekerta, memiliki suatu bentuk yang khusus dalam penulisannya. Bentuk penulisan kidung weda disebut dengan Chanda. Ini adalah suatu istilah yang sama dengan metrum (Wirama) yaitu suatu aturan tentang jumlah suku kata di dalam sebuah baris dan sebuah mantram Weda.
Jumlah suku kata yang dihitung adalah suku kata yang konsonannya diikuti huruf svara (Vowel) termasuk pula huruf aspirat (visarga = h) dan suara sengau (anusvasra = m). Baris mantram weda juga ditentukan oleh irama berat ringan dan panjang pendek yang disebut Guru dan Laghu. Secara tradisonal, metrum-metrum tersebut dibedakan atas 2 jenis yaitu yang biasa da yang panjang.
Metrum Yang biasa – Jml Suku Kata
1. Gayatri……………………………………………… 24 (8+8+8)
2. Usnih……………………………………………….. 28 (7+7+7+7)
3. Anustubh…………………………………………… 32 (8+8+8+8)
4. Brhati………………………………………………. 36 (9+9+9+9)
5. Pankti………………………………………………. 40 (8+8+8+8+8)
6. Tristubh…………………………………………….. 44 (11+11+11+11)
7. Jagati……………………………………………….. 48 (12+12+12+12)
Selain metrum – metrum yang standar, weda juga mengenal berbagai variasi dari metrum tersebut. Penjelasan mengenai variasi metrum lainnya dapat dilihat dalam buku I Made Titib, “Veda Sabda suci”.
Isi Veda sangat beragam, namun pada dasarnya Veda membicarakan pengetahuan yang bersifat sangat mendasar.
Ko addha veda ka iha pra vocat
Kuta ajata kuta iyam visrstih
Arvag deva asyavisarjanenatha
Ko veda yatha abhuva. -Rgveda X.129.6
Artinya: Siapakah sesungguhnya mengetahui, siapakah yang mampu menjelaskan, dimanakah ia lahir dan darimanakah ciptaan itu berasal ?. Sesungguhnya para dewata belakangan dari terciptanya alam ini. Siapakah yang mengetahui asal dari ciptaan ini
Veda membicarakan tentang konsep ketuhanan, yang dalam bahasa veda adalah deva atau devata. Pengertian “deva atau devata” disini tidak sama dengan pengertian “dewa” dalam bahasa Indonesia.
Swami Dayananda Sarasvati mengatakan arti atau makna kata dewa itu melingkupi dua makna yang sama. Perbedaan antara Dewa (Tuhan) dengan Deva (para Deva) adalah, seluruh dewa atau devata menerima sinar dari Tuhan, sedangkan Tuhan memancarkan sinarnya sendiri.
Beraneka dewa dalam Hindu itu adalah untuk memudahkan membayangkan Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Mengenai Keesaan Tuhan, Yajurveda mengatakan :
Yo ‘asav aditye purusah
So asav aham. Om Kham Brahma
Yajurveda XI.17
Artinya: Spirit yang terdapat di matahari itu adalah Aku. Om (nama-Ku) memenuhi seluruh alam semesta.
Kitab Rgveda dan Atharvaveda menyebut 33 dewa yang merupakan manifestasi dari Tuhan. Ke-33 dewa tersebut, adalah 8 Vasu, 11 Rudra, 12 Aditya dan ditambah dengan Indra serta Prajapati.
Yasya trayastrimsad deva ange sarva samahitah
Skambham tam bruhi katamah videva sah
Atharvaveda X.7.23
Artinya: Siapakah yang sedemikian banyak itu, ceritakan kepadaku, tidak lain adalah Tuhan yang meresapi segalanya, yang pada dirinya dikandung seluruh 33 dewa sebagai kekuatan alam.
Bila kita membaca lebih lanjut mantram lainnya dari Rgveda, maka kita akan mengetahui bahwa jumlah dewa dalam Veda tidaklah hanya 33, namun sebanyak 3339. hal ini dijelaskan oleh Rgveda
Trini sata tri sahasranyagnim trimsancca
Deva nava casaparyan auksan ghrtairastrnan
Barhirasma adiddhotaram nyasadyanta
Rgveda III. 9.9
Artinya: Adalah tiga ribu tiga dewa, tiga puluh sembilan dewata yang memuja agni (Tuhan). Yang telah menyebarkan rumput suci dengan minyak yang dicipratkan dan mengangkat mereka sebagai pandita dan pelaksana yadnya.
Diantara dewa-dewa tersebut, Rgveda menggambarkan Surya sebagai dewa yang tertinggi dengan mantram.
Udvayam tamasaspari jyotis pasyanta uttaram
Devam devatra suryamaganma jyotiuttamam
Rgveda I.50.10
Arinya: Lihatlah menjulang tinggi diangkasa, cahaya yang terang benderang mengatasi kegelapan telah datang. Ia adalah Surya, dewa dari seluruh dewa, cahayanya yang terang itu betapa indahnya.
Surya yang dimaksud disini bukanlah “Surya Bola Matahari” namun devata tertinggi. Didalam veda, dewa pada dasarnya adalah nama lain atau bentuk lain dari Surya (Tuhan), dan devi adalah aspek feminim dari devata.
Kata “Devi” mengandung makna fajar di pagi hari. Dewa dan dewi dalam weda sering digambarkan secara Anthrophomorphic (berwujud seperti manusia dengan beraneka keunggulan dan kelebihannya, yang disertai dengan kendaraan dan binatang-binatang yang menarik kendaraan tersebut).
Dalam praktek persembahyangan hanya beberapa dewa yang secara umum dipuja, hal ini adalah karena pada jaman Upanisad, telah terjadi peralihan fungsi dari sedemikian banyak dewa menuju bentuk Trimurti sebagaimana yang dikenal pada saat ini. Didalam konsep Trimurti yang paling banyak dipuja adalah Brahma, Visnu dan Siva.
Dalam pembahasan model-model dewa yang ada diatas, dapat diketahui bahwa veda menganut konsep Monisme atau sebagaimana yang dikatakan oleh David Frawley, “Satu dalam segalanya dan segalanya dalam yang satu”. Namun harus dikritisi pula bahwa selain menganut Monisme, weda juga menganut Monotheisme Transcendent dan Monotheisme Immanent. Penjelasan mengenai tiga istilah tersebut akan dijelaskan dibawah ini, disertai dengan berbagai model teologi lain yang tidak dianut oleh weda.
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, teologi weda adalah Monisme, Monotheisme Transcendent dan Monotheisme Immanent. Dalam pandangan Monotheisme Transcendent, Tuhan selalu muncul dalam bentuk Personal sedangkan dalam model Monotheisme Immanent, Tuhan digambarkan sebagai Impersonal God.
Selain membahas tentang konsep ketuhanan, weda juga membahas beberapa hal lain yang oleh Maurice Winternitz dikategorikan sebagai berikut.
This website uses cookies.