🇺🇸 ENGLISH
Tradisi dan Budaya

Catur Guru: 4 Guru yang wajib dihormati

Catur Guru

Catur Guru merupakan salah satu filsafat hidup masyarakat Hindu di Bali yang nilai-nilainya telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Bagian-bagian Catur Guru
terdiri dari Guru Swadyaya (Tuhan), Guru Rupaka (orang tua), Guru Pangajian (guru di sekolah) dan Guru Wisesa (pemerintah).

Kesusasteraan Hindu meliputi kitab-kitab yang menceritakan kisah kepahlawanan maupun berisikan ajaran tentang nilai-nilai luhur, moral, etika, dan tata cara hidup yang hingga saat ini masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Hindu.

Terdapat banyak kesusastraan Hindu yang memuat ajaran Catur Guru, diantaranya yaitu kitab Mahabharata, kitab Nitisastra, kitab Upanisad, kitab Bhagawadgita, dll.

https://eprints.uny.ac.id/67119

Pengertian Catur Guru

Catur artinya empat dan Guru artinya Guru atau pembimbing, jadi Catur guru dapat diartikan empat guru yang mempunyai tugas yang sangat berat dalam membimbing umat untuk mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat Hindu, tidak terlepas dari disiplin dalam setiap tingkah laku kita sehari-hari lebih terhadap keempat Guru. Berbhakti kepada keempat guru itu adalah suatu kewajiban. Didalam etika atau susila agama Hindu, disebutkan catur guru adalah mereka yang harus kita hormati.

Bagian-bagian Catur Guru

Guru Swadyaya

Guru Swadyaya disebut juga guru sejati. Dinamakan guru sejati karena Beliau adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dinyatakan sebagai guru karena Tuhan adalah pembimbing utama bagi umat manusia yang tidak ada bandingannya. Beliau Mahatahu, beliau juga Mahakuasa, dan Maha-sakti. Karena itu sebagai manusia kita perlu mewujudkan rasa bhakti kita kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan tulus ikhlas. Selalu bersyukur atas karunia-Nya

Guru Rupaka

Guru Rupaka atau Guru Reka adalah orang tua atau Ibu Bapak kita di rumah, sebagai orang pertama yang memberikan pendidikan kepada kita. Manusia tumbuh dan berkembang adalah berkat pendidikan dan asuhan orang tuanya. Karena itu anak-anak harus menghargai orang tuanya.

Guru Pengajian

Guru pengajian atau Guru Waktra adalah guru yang memberikan pendidikan dan pengajaran kepada kita di sekolah. Guru di sekolah memberikan ilmu pengetahuan kepada muridmuridnya, sehingga siswa menjadi pandai dan terhindar dari kebodohan sehingga terbebas dari penderitaan. Karena itulah siswa-siswi harus menghargai dan menghormati gurunya.

Guru Wisesa

Guru wisesa adalah Pemerintah. Disebut guru wisesa karena Guru itulah yang nga-wisesa atau memerintah, melayani, menciptakan ketentraman dan kesejahteraan masyarakat.

Sumber: pendidikanagamahindu/bahan-ajar-1/bagian-bagian-catur-guru

Lihat juga: Guru Puja

Landasan Sastra: Keutamaan Menghormati Catur Guru

Dalam ajaran Hindu, penghormatan kepada Guru bukan sekadar tradisi sosial, melainkan perintah suci. Kitab Sarasamuscaya Sloka 240 menjelaskan bahwa seseorang yang dengan tulus berbakti kepada mereka yang patut dihormati (Catur Guru) akan memperoleh empat keberkahan utama dalam hidup, yang disebut dengan:

  1. Ayusa: Umur panjang dan kesehatan.
  2. Wirya: Kekuatan batin dan keteguhan iman.
  3. Yasa: Nama baik dan kemuliaan di masyarakat.
  4. Sakti: Kemampuan dan keberhasilan dalam mencapai cita-cita.

Selain itu, kitab Taitiriya Upanisad menegaskan konsep “Matru Devo Bhava, Pitru Devo Bhava, Acharya Devo Bhava”, yang berarti hendaknya kita memuliakan Ibu, Ayah, dan Guru (Pengajar) sebagai perwujudan Tuhan di dunia nyata.

Implementasi Catur Guru dalam Kehidupan Modern

Agar filsafat ini tidak hanya menjadi teori, berikut adalah bentuk nyata pengamalan Catur Guru di era digital:

  • Guru Swadyaya (Tuhan): Tidak hanya melalui ritual persembahyangan, tetapi dengan menjaga kelestarian alam sebagai ciptaan-Nya dan menjalankan ajaran Dharma dalam setiap tindakan.
  • Guru Rupaka (Orang Tua): Mendengarkan nasihat mereka, merawat mereka di masa tua, serta menjaga nama baik keluarga. Dalam tradisi Bali, mereka disebut Guru Reka karena secara fisik “mereka” atau membentuk rupa kita.
  • Guru Pengajian (Pendidik): Menjaga etika dan adab saat menuntut ilmu, baik di sekolah formal maupun saat belajar secara mandiri melalui literasi digital. Menghargai hak kekayaan intelektual juga merupakan bentuk penghormatan kepada guru.
  • Guru Wisesa (Pemerintah): Menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi hukum, membayar pajak, serta bijak dalam bersosial media guna menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Kesimpulan: Catur Guru sebagai Pilar Keharmonisan

Catur Guru adalah manifestasi praktis dari konsep Tri Hita Karana. Dengan menghormati keempat guru ini, kita menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesamanya (Pawongan), dan melalui aturan pemerintah yang bijak, kita menjaga keselarasan dengan lingkungan (Palemahan).

FAQ: Mengenal Ajaran Catur Guru

Apa yang dimaksud dengan Catur Guru? 

Catur Guru adalah empat kepribadian atau lembaga yang harus dihormati dan dimuliakan oleh umat Hindu untuk mencapai keharmonisan hidup. Bagiannya terdiri dari Guru Swadyaya, Guru Rupaka, Guru Pengajian, dan Guru Wisesa.

Mengapa orang tua disebut sebagai Guru Rupaka? 

Orang tua disebut Guru Rupaka (atau Guru Reka) karena mereka adalah pendidik pertama dan utama di rumah. Mereka berjasa karena telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita (mereka/membentuk rupa fisik kita).

Siapakah yang dimaksud dengan Guru Wisesa? 

Guru Wisesa adalah Pemerintah atau pihak berwenang. Mereka memiliki kewajiban untuk melayani, mengayomi, dan menciptakan keamanan serta kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Apa pahala bagi mereka yang berbakti pada Catur Guru? 

Menurut kitab Sarasamuscaya, mereka yang berbakti akan memperoleh empat keutamaan hidup: umur panjang (Ayusa), kekuatan batin (Wirya), nama baik (Yasa), dan keberhasilan (Sakti).

Apa perbedaan antara Guru Swadyaya dan Guru Pengajian? 

Guru Swadyaya adalah Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) sebagai guru sejati alam semesta, sedangkan Guru Pengajian adalah guru atau dosen yang memberikan pendidikan formal dan ilmu pengetahuan di sekolah.

Gst Komang Yoga

Author

This website uses cookies.